Panen Melulu
Pak Udin punya kebun kecil di belakang rumah. Sayangnya, kebun itu terlalu rajin. Pagi hari dia petik cabai, siang petik tomat, sore petik terong. Malamnya, mentimun masih nongol sambil bilang, “Giliran saya, Pak.”
Besoknya lebih parah. Ia baru bangun, sudah ada labu di bantal. “Maaf, Pak, saya ikut panen,” katanya sopan.
Istrinya, Bu Udin, hanya geleng-geleng. “Sudah, cukup. Nanti kita jual.”
Tapi Pak Udin belum puas. Ia panen rumput, daun pintu, bahkan sendok sup. “Ini juga hasil kebun, Bu. Tumbuh di dapur.”
Tetangga datang bawa keranjang kosong. “Pak, boleh minta sedikit?”
“Boleh,” jawab Pak Udin. Lalu ia petik senyum tetangga itu dan taruh di keranjang. “Ini panen hari ini. Segar.”
Tetangga pulang sambil tertawa, senyumnya belum sempat tumbuh lagi.
Di penghujung hari, kebun benar-benar kosong. Pak Udin duduk lelah. Tiba-tiba perutnya keroncongan.
“Wah,” gumamnya, “ternyata yang belum dipanen cuma rasa lapar.”
Bu Udin menyodorkan sepiring sayur. “Makan dulu. Besok panen lagi… tapi yang di piring, ya.”
Pak Udin mengangguk. Sendoknya ikut mengangguk. Malam itu, untuk pertama kalinya, tidak ada yang minta dipetik—kecuali nasi, dan itu pun dengan sopan.