Jago
Pagi itu, Jago berdiri di tengah gang dengan dada membusung. Ia yakin dirinya ahli lalu lintas karena kokoknya selalu lebih keras daripada klakson motor. “Kiri, kanan, pelan-pelan!” perintahnya kepada kucing, bebek, dan dua kambing yang antre jagung rebus. Kucing malah tiduran. Bebek berputar-putar, mengira itu lomba. Kambing kanan menabrak tong sampah, sedangkan kambing kiri menyapa semua orang sambil mengunyah daun. Jago makin semangat. Ia meniup sedotan bekas seperti peluit dan berseru, “Disiplin, saudara-saudara!” Pak RT yang lewat hampir jatuh dari sepeda karena tertawa. “Jago, petugas yang baik tidak berdiri di atas kulit pisang.” Terlambat. Kaki Jago terpeleset. Ia berputar tiga kali, sayapnya mengepak heboh, lalu mendarat tepat di atas tumpukan daun dengan gaya pahlawan. Semua hewan tepuk sayap dan kuku. Bahkan kambing yang tadi kacau ikut memberi hormat, meskipun hormatnya miring. Sejak hari itu, Jago tidak lagi mengatur gang. Ia menjadi pengatur antrean cacing di kebun: satu ...