Postingan

Kapan Kemarinya

Rara sudah tiga kali mengecek jam di layar ponsel. Hujan deras menggedor jendela apartemen lantai tujuh belas, dan pesan terakhir dari Dimas masih sama: *Besok pagi, sayang. Kangen.* Ia membalas singkat, *Kapan kemarinya?* lalu melempar ponsel ke sofa. Tubuhnya panas bukan karena AC yang terlalu dingin. Sebulan. Sebulan tanpa sentuhan, tanpa napas di leher, tanpa cara Dimas menekan pinggulnya sampai ia tidak bisa berpikir. Ia hanya memakai kaus longgar Dimas dan celana dalam katun tipis. Rambut basah habis mandi masih menempel di bahu. Bel berbunyi. Rara kaku. Tidak ada tamu yang dijadwalkan. Ia melongok lubang intip—dan napasnya putus. Dimas. Jas hujan basah, koper kecil di kaki, senyum yang langsung membuat perutnya mengencang. Ia membuka pintu. Belum sempat bicara, Dimas sudah masuk, menutup pintu dengan kaki, dan menariknya. Mulut mereka bertemu keras. Hujan masih menetes dari rambut Dimas ke leher Rara. Lidahnya masuk, menuntut, dan Rara mengerang pelan ke dalam ciuman itu, jari-j...

Ramen Aku Hilank Nich

Pak Budi baru saja duduk, sendok sudah di tangan, mata berbinar menatap ramen kesukaannya. Uapnya mengepul, telur mata sapi tersenyum, dan daun bawang berbaris rapi seperti pasukan kecil. “Ini dia,” gumamnya. “Momen suci.” Ia berkedip sekali. Cuma sekali. Saat mata terbuka, mangkuknya kosong. Bersih. Mengkilap. Bahkan uapnya ikut kabur. “Ramen aku hilang, nich!” teriaknya. Ia menggeledah meja, kursi, bahkan saku celana. Tidak ada. Tiba-tiba terdengar suara slurpp kecil dari bawah meja. Pak Budi menunduk. Kucing tetangganya, si Belang, duduk tenang dengan kumis penuh minyak cabai. “Kamu?” tanya Pak Budi. Belang menggeleng. Lalu menunjuk ke arah kipas angin. Ternyata angin dari kipas terlalu semangat. Mie-mie nakal itu terbang satu per satu, mendarat rapi di atap rumah tetangga, lalu membentuk tulisan: “Maaf, kami liburan.” Pak Budi tertawa sampai perutnya keroncongan. Ia membuat ramen baru, kali ini mangkuknya diikat tali, kipas dimatikan, dan Belang diberi ikan kecil sebagai “uang tutu...

Isip Isip Joz

Isip Isip Joz sedang berjalan santai ketika topinya tiba-tiba terbang sendiri. Topi itu berputar di udara sambil bersiul, lalu mendarat tepat di kepala seekor kucing tetangga. “Eh, topiku!” seru Isip. Kucing itu menoleh pelan, lalu berjalan anggun seolah baru dilantik menjadi wali kota. Isip mengejarnya, tapi setiap kali dekat, topi itu melompat ke kepala orang lain: tukang bakso, ibu-ibu belanja, bahkan patung di taman. Akhirnya topi berhenti di atas kepala Isip lagi. Semua orang bertepuk tangan. Isip tersenyum bangga, sampai ia sadar topinya terbalik dan di dalamnya tertulis: “Milik Kucing, dipinjam sementara.” Kucing itu mengedip, lalu pergi dengan gaya pejabat. Isip hanya bisa tertawa. “Besok,” gumamnya, “saya bawa helm saja.”

Lirikan Mata Hitam Abu Abu

Di kantin sekolah, Raka terkenal karena lirikan mata hitam abu-abunya. Katanya, sekali melirik, nasi goreng bisa malu dan bumbu kecap langsung minta maaf. Suatu siang, Raka melirik ke arah meja Bu Kantin. Bukan karena sombong, hanya karena sendoknya jatuh. Tapi lirikan itu mendarat tepat pada rak bumbu. Lada terbang, garam berputar, dan kecap meloncat seperti ikut lomba lari. Nasi goreng di wajan tiba-tiba membentuk wajah terkejut. “Aduh, Mas, lirikannya jangan ke bumbu!” teriak Bu Kantin sambil memegang tutup panci seperti perisai. Raka panik. Ia mencoba melirik ke langit-langit agar suasana aman. Sayangnya, lampu ikut berkedip-kedip, seolah ikut tersipu. Teman-temannya malah bertepuk tangan. “Wah, lirikan mata hitam abu-abu level jurusan tata boga!” celetuk salah satu teman. Akhirnya Raka menunduk, menutup mata, lalu berkata pelan, “Bu, saya cuma mau minta sendok cadangan.” Bu Kantin tertawa, menyerahkan sendok, dan menaruh sepiring nasi goreng di depannya. Di atas nasi itu tertulis ...

Kawin Sendiri Nih Yhe

Budi sudah capek ditanya, “Kapan nikah?” Jadi ia memutuskan mengadakan pesta kawin sendiri di rumah. Tamunya tetangga, MC-nya spanduk bekas, dan saksinya kulkas yang selalu setia. Saat ijab kabul, Budi menatap cermin. “Saya terima nikah saya dengan saya,” katanya khidmat. Cermin tidak menjawab, tapi Budi tetap tersenyum lebar. Ia menukar cincin dari tangan kanan ke tangan kiri, lalu bertepuk tangan sendiri. Para tamu ikut tepuk tangan, setengah bingung, setengah lapar. Masalahnya, kue pengantin ternyata masih di toko. Budi panik, lalu mengeluarkan mi instan cadangan. Semua orang makan mi sambil memakai topi kertas berbentuk mahkota. Ada yang menangis karena pedas, ada yang ketawa karena Budi salah pasang dasi sampai ke dahi. Di akhir acara, Budi mengumumkan bulan madu: tidur siang di sofa. Tamu pulang bawa sisa kerupuk, dan Budi melambai ke cermin. “Sampai jumpa, suami,” katanya. Cermin diam. Budi malah tertawa sendiri sampai tetangga ikut ketawa dari balik pagar.

Batas Kewajaran

Di Kampung Suka-Suka, Pak Joyo diangkat sebagai Penjaga Batas Kewajaran. Bekalnya hanya penggaris kayu dan buku catatan tipis. Pagi itu, Bu Rina tertawa keras karena kucingnya memakai songkok miring. Pak Joyo mengukur lebar tawa itu dengan serius. "Ibu, tawa ini delapan sentimeter di atas batas. Turunkan menjadi senyum sopan." Siang harinya, nasi goreng Pak Udin terlalu harum. Pak Joyo mengendus tiga kali. "Aroma berlebihan. Kurangi bawang, tambahkan udara biasa." Sore hari, layang-layang anak-anak naik tinggi. "Itu melampaui batas kewajaran langit!" serunya. "Turunkan sampai setinggi pohon mangga!" Layang-layang pun tersangkut. Kucing bersongkok ikut terjebak di dahan. Bu Rina menahan tawa. Pak Udin menahan bawang. Satu kampung menahan napas supaya tidak kelewatan. Malamnya, istri Pak Joyo menyodorkan teh yang sedikit terlalu manis. "Kalau semua diukur, hidup jadi kaku," katanya. Pak Joyo mencicipi teh itu, terdiam, lalu tertawa kecil....

Indik Indik Icap Icap

Suatu sore, Yank Memeq duduk di warung pempek sambil menatap piringnya dengan tatapan serius. “Isep pempek aku dong,” katanya pelan. Pemilik warung mengerutkan dahi. “Diisep? Biasanya dimakan, Yank.” “Ini pempek spesial,” jawab Yank Memeq. “Katanya kalau diisep pelan-pelan, kuah cuknya bisa nyanyi.” Semua orang di warung langsung diam. Lalu seorang nenek mencoba mengisap ujung pempek dengan hati-hati. Tiba-tiba kuah cuk berbunyi, “Cuk… cuk… jangan digoyang, aku lagi rapat.” Warung heboh. Pempek-pempek lain ikut bersuara. Ada yang minta sendok, ada yang minta jangan pedas, ada yang mengeluh karena tersandung timun. Yank Mempek—eh, Yank Memeq—tertawa sampai hampir jatuh dari kursi. “Tuh, kan lucu!” Sang pemilik warung menggeleng, lalu tersenyum. Ia menuang kuah cuk ke mangkuk kecil dan berkata, “Baik, Yank. Tapi mulai sekarang, pempek tetap dimakan. Kalau mau konser, kuahnya saja yang tampil.” Semua pengunjung bertepuk tangan. Kuah cuk pun “menyanyi” terakhir kali, lalu diam, seolah malu...