Mabok
Pak RT masuk ke rapat warga dengan langkah zig-zag. “Maaf, saya mabok,” katanya khidmat. Tetangga sontak diam. Ada yang sudah menyiapkan ember. Ada yang berbisik, “Jangan-jangan air galonnya dicampur drama.” Ternyata Pak RT baru ikut lomba memutar kursi kantor di balai desa. Hadiahnya sebungkus kerupuk. Kursinya menang, kepalanya kalah telak. Ia menyapa tiang listrik, “Assalamu’alaikum, Pak Lurah.” Tiang listrik tidak menjawab, hanya kabelnya yang ikut goyang sopan. Istrinya menyodorkan air putih. “Minum pelan-pelan.” “Jangan buru-buru,” jawab Pak RT. “Saya masih merasa jadi komidi putar yang bayar pajak.” Ia mencoba duduk. Mendarat di ember cucian. Embernya ikut bersuara, “Pluk,” seolah setuju dengan hasil rapat. Anaknya bertanya, “Bapak minum apa?” “Minum tanggung jawab,” katanya. “Sayangnya tanggung jawabnya kebanyakan muter.” Malam itu ia berjanji tidak akan ikut lomba lagi. Besoknya ia tetap datang, kali ini sebagai wasit. Lima menit kemudian wasitnya ikut pusing, lalu mengumumkan...