Postingan

Marah Marah

Malam itu rumah terasa sempit. Lampu ruang tamu redup, tapi suasananya panas karena suara mereka yang saling memotong. “Kamu selalu begini, Raka. Selalu ngilang tanpa kabar, terus pulang seolah nggak ada yang salah,” kata Dinda, suaranya bergetar marah. Rambut hitamnya berantakan, kemeja tipisnya sedikit terbuka di atas karena napasnya cepat. Raka melempar kunci mobil ke meja. “Aku capek, Din. Jangan mulai.” “Capek?” Dinda melangkah mendekat, matanya menyala. “Aku yang nunggu sampe tengah malam, hp-mu mati, dan kamu cuma bilang capek?” Mereka berdiri terlalu dekat. Amarah membuat dada mereka naik turun, napas saling beradu. Raka mencium aroma tubuh Dinda—campuran parfum manis dan keringat tipis yang membuat perutnya mengencang. Dia seharusnya mundur. Tapi tangannya sudah meraih pinggang Dinda, menariknya kasar sampai tubuh mereka menempel. “Lepas,” bisik Dinda, tapi suaranya tidak meyakinkan. Bibirnya setengah terbuka. “Nggak mau.” Raka menciumnya keras. Bukan ciuman lembut. Gigi merek...

Jamet

Malam itu gerimis tipis di emperan warung kopi pinggir jalan. Lampu neon kedip-kedip, asap rokok nempel di udara lembap. Dika duduk di bangku plastik, sandal jepit sudah longgar di kaki, kaos oblong ketat nempel di dada karena keringat dan gerimis. Rambutnya agak gondrong, anting kecil di telinga kiri, kalung emas palsu mengilat di leher. Ia jamet banget—cara duduknya melebar, cara meliriknya kasar tapi bikin penasaran. Di seberangnya, Rina baru turun dari angkot. Rok ketat di atas lutut, kaos crop yang nampakin perut, tas selempang murahan. Rambutnya dikuncir tinggi, alis tebal, bibir merah. Ia juga jamet, tapi yang lebih diam dan tajam. Matanya ketemu mata Dika, dan dunia di sekitar mereka kayak mengecil. “Neng, mau nimbrung?” suara Dika rendah, sengaja. Rina tidak langsung jawab. Ia mendekat, berdiri di antara kedua paha Dika yang terbuka. Bau keringat campur parfum murah langsung menerpa. “Berani banget manggil neng. Kenal dari mana?” “Dari cara lo ngeliat gua tadi. Mata lo udah bi...

Ketapang

Malam di Ketapang terasa lengket. Angin dari laut membawa garam dan bau tanah basah, sementara daun-daun pohon ketapang di tepi pantai berdesir pelan. Rina berdiri di bawah salah satu pohon itu, kaos tipisnya sudah menempel di punggung karena keringat. Usianya tiga puluh dua. Tubuhnya berisi, payudara penuh yang selalu membuat bra ketat, pinggul lebar, dan paha yang saling bergesekan setiap kali dia melangkah. Dia menunggu. Doni muncul dari gelap, kaus oblong basah di dada, celana pendek longgar. Tiga puluh lima, tinggi, otot lengan yang sudah mulai kendur tapi masih kuat. Mereka tidak banyak bicara. Tatapan saja sudah cukup. Rina menariknya ke bayang-bayang pohon. Bibir mereka bertemu kasar. Lidah Doni langsung masuk, menjilat, menghisap, sementara tangannya meremas pantat Rina dari luar rok. Rina mengerang pelan ke dalam mulutnya. “Kangen,” bisik Doni, suaranya serak. Tangannya naik, menyelinap di bawah kaos, menemukan payudara tanpa bra. Jari-jarinya mencubit puting yang sudah keras...

Popcorn

Pada suatu malam yang tenang, Pak Ahmad duduk di sofa sambil menonton televisi dan mengunyah popcorn kesukaannya. Tiba-tiba, satu butir popcorn melompat tinggi dari mangkuk dan berseru dengan suara melengking, "Hei, berhenti! Aku belum siap menjadi camilan!" Pak Ahmad hampir tersedak karena kaget. Popcorn nakal itu segera memanggil saudara-saudaranya. Dalam sekejap, puluhan popcorn berdiri tegak dan membentuk barisan rapi seperti pasukan kecil yang gagah. "Kami Pasukan Popcorn Siap Tempur!" pekik si pemimpin yang ujungnya agak gosong. Mereka pun bergerak serempak menuju remote televisi dan memencet tombol hingga saluran berubah menjadi kartun lucu. Pak Ahmad tertawa terpingkal-pingkal hingga perutnya sakit. "Kalian lebih hebat dari semua komedian!" Belum puas beraksi, para popcorn berusaha memanjat meja untuk meraih garam. "Garam adalah sumber kekuatan kami!" teriak mereka semangat. Sayangnya, tubuh mereka terlalu ringan sehingga terpeleset dan t...

Tenggelem

Di kampung pinggir sungai, ada bebek bernama Tenggelem. Namanya begitu karena setiap kali berenang, dia selalu “tenggelam” dengan gaya sangat yakin, seolah dasar sungai adalah sofa favoritnya. Suatu hari diadakan lomba renang bebek. Para peserta meluncur anggun. Tenggelem malah terjun, lalu hilang. Penonton menunggu. Katak komentator sampai kehabisan kata. Sepuluh menit kemudian, Tenggelem muncul sambil menggendong keranjang kecil berisi ikan lele yang kebingungan. “Maaf,” katanya sopan, “saya tersesat di lorong bawah air. Ini oleh-oleh.” Lele-lele itu ikut berenang dan malah finis paling cepat. Juri bingung, lalu memberi Tenggelem piala khusus: Peserta Paling Rajin Menyelam dan Paling Ramah pada Ikan. Pulang, Tenggelem tersenyum lebar. Satu lele kecil ikut sampai rumah dan menjadi teman sekamar. Malamnya mereka duduk di beranda. Tenggelem makan jagung rebus, lele kecil hanya menonton karena sedang menjaga pola makan. Angin berembus, piala berkilau, dan kampung tertawa kecil melihat du...

Mabok

Pak RT masuk ke rapat warga dengan langkah zig-zag. “Maaf, saya mabok,” katanya khidmat. Tetangga sontak diam. Ada yang sudah menyiapkan ember. Ada yang berbisik, “Jangan-jangan air galonnya dicampur drama.” Ternyata Pak RT baru ikut lomba memutar kursi kantor di balai desa. Hadiahnya sebungkus kerupuk. Kursinya menang, kepalanya kalah telak. Ia menyapa tiang listrik, “Assalamu’alaikum, Pak Lurah.” Tiang listrik tidak menjawab, hanya kabelnya yang ikut goyang sopan. Istrinya menyodorkan air putih. “Minum pelan-pelan.” “Jangan buru-buru,” jawab Pak RT. “Saya masih merasa jadi komidi putar yang bayar pajak.” Ia mencoba duduk. Mendarat di ember cucian. Embernya ikut bersuara, “Pluk,” seolah setuju dengan hasil rapat. Anaknya bertanya, “Bapak minum apa?” “Minum tanggung jawab,” katanya. “Sayangnya tanggung jawabnya kebanyakan muter.” Malam itu ia berjanji tidak akan ikut lomba lagi. Besoknya ia tetap datang, kali ini sebagai wasit. Lima menit kemudian wasitnya ikut pusing, lalu mengumumkan...

Preman

Di gang Kampung Melati, Bang Juki terkenal sebagai preman paling galak—setidaknya menurut papan nama yang ia buat sendiri. Setiap sore ia berdiri di depan warung Bu Minah dan berteriak, “Bayar uang keamanan!” Bu Minah mengangguk tenang. “Berapa, Bang?” “Satu piring nasi uduk. Bumbunya harus pas, sambalnya jangan pelit.” Suatu hari, seorang pengantar paket tersesat. Juki menghadang dengan gaya heroik. “Wilayahku! Serahkan sesuatu!” Pengantar itu bingung, lalu memberikan permen karet rasa durian. Juki mengunyahnya gagah, sampai permen lengket di kumis palsu warisannya. Kumis itu copot, melayang, dan mendarat tepat di panci soto Bu Minah. “Kumis leluhurku!” teriak Juki. Ia menyambar sendok, terpeleset, dan tercebur. Keluar dari panci, ia basah kuyup, berbau kuah, dan disambut tepuk tangan anak-anak yang menjulukinya Preman Soto Terbang. Sejak itu Juki berhenti memalak. Ia malah membantu mengaduk soto, meski kumis barunya selalu ikut mengapung. Pelanggan pulang kenyang, tertawa, dan gang i...