Postingan

Tanpa Sadar Buka Celana

Malam itu ruang tamu mereka hanya diterangi lampu redup dan suara televisi yang pelan. Rina, dua puluh sembilan tahun, tubuhnya hangat dan sedikit lembap setelah mandi, bersandar di sofa dengan kepala terkulai di paha suaminya. Dimas, tiga puluh dua, masih memakai celana training longgar. Ia sendiri juga lelah, satu tangan mengelus rambut Rina sambil setengah memperhatikan layar. Rina mengantuk berat. Napasnya pelan, bibirnya sedikit terbuka. Tangannya yang lemas bergerak tanpa arah, jari-jari meraba kain celana Dimas seperti sedang mencari sesuatu dalam mimpi. Ia tidak sadar jarinya sudah menemukan tali celana, menariknya longgar, lalu menyelip ke dalam. Kulit hangat Dimas terasa di ujung jarinya. Kontol suaminya, yang tadinya lunak, mulai bereaksi pelan di bawah sentuhan tidak sadar itu. Dimas menahan napas. Ia melihat tangan istrinya bergerak sendiri, membuka celana trainingnya sampai pinggang turun sedikit. Boxer ikut tersingkap. Kontolnya yang mulai tegang keluar, batang tebal han...

Kapak Perang Kuat

Di desa kecil, Kapak Perang Kuat terkenal karena bisa membelah batu hanya dengan menguap. Suatu pagi, pemiliknya, Pak Udin, ingin membuka stoples selai yang macet. “Tolong, Kapak,” katanya sopan. Kapak mengangguk bangga, lalu mengayun sekali. Stoples terbuka. Sayangnya, meja ikut terbuka. Kursi ikut terbuka. Bahkan pintu lemari ikut “terbuka” menjadi dua bagian yang rapi. Pak Udin menghela napas. “Aku cuma mau sarapan.” Kapak merasa bersalah. Ia mencoba memperbaiki semuanya dengan ayunan yang lebih pelan. Hasilnya, piring pecah menjadi seribu piring mini yang tetap bisa dipakai, asal makannya satu nasi tiap piring. Tetangga datang, kaget melihat rumah seperti puzzle. Tapi bau selai stroberi mengalahkan kekagetan mereka. Semua ikut sarapan di piring-piring mini sambil tertawa. Kapak Perang Kuat duduk di pojok, malu. Lalu seekor kucing menjatuhkan tutup stoples lagi. Kapak menegakkan badan, siap beraksi. Pak Udin buru-buru berkata, “Cukup bantu pegangin sendoknya saja.” Kapak menurut. Ia...

Pada Malam Hari Seksnya Seru ah ah ah

Malam itu hujan deras mengguyur atap, bunyinya rapat dan berat, seolah menutup dunia di luar. Di dalam kamar, lampu tidur hanya menyisakan cahaya kuning redup. Aroma kulit yang baru mandi masih nempel di udara, campur sama wangi lotion vanila yang dia oles tipis di leher dan paha. Dia berbaring telentang, kaos tipisnya sudah tersingkap sampai di bawah payudara. Putingnya menegang kena udara AC. Aku naik ke atas kasur, lutut di antara pahanya yang terbuka. Tanganku meraba perutnya yang hangat, naik pelan sampai menggenggam payudaranya. Lembut, penuh, putingnya keras di antara jariku. Aku cubit pelan, dia mendesah langsung. “Malam ini… jangan buru-buru,” bisiknya, suaranya sudah parau. Aku tunduk, jilat lehernya dari tulang selangka naik ke telinga. Lidahku basah, gigiku menggigit daun telinganya. Tanganku yang lain sudah menyelip ke dalam celana dalam katunnya. Jari-jariku nemu belahan memeknya yang sudah lengket. Basah. Hangat. Aku usap pelan dari bawah ke atas, nenemukan klitorisnya y...

Drama Cina

Pak RT bangun dengan rambut disisir ke belakang, padahal tinggal lima helai. Semalaman ia menonton drama Cina, lalu merasa hidupnya butuh musik sedih dan angin sepoi-sepoi. Di warung, ia menatap Bu Warung dengan mata berkaca-kaca. “Kau… siapa?” bisiknya. “Yang jual nasi uduk tiap pagi, Pak,” jawab Bu Warung. Pak RT mengangguk pelan. “Dulu kita janji di bawah pohon sakura. Eh, pohon mangga. Aku belum sanggup mengatakannya.” “Mengatakan utang Bapak dua minggu,” potong Bu Warung. Tiba-tiba tetangga datang membawa payung, meski matahari terik. Dalam drama, benda dramatis selalu muncul tanpa diundang. Payung itu ketuker dengan wajan. Wajan berdenting. Semua orang menoleh dalam gerakan lambat yang tidak ada yang minta. Pak RT berlutut di depan warung. “Aku bukan CEO! Aku cuma ketua RT! Tapi ketertiban gang ini… lebih berharga daripada istana!” Bu Warung menepuk bahunya. “Bagus. Kalau berharga, bayar dulu. Episodenya lanjut setelah Maghrib, asal tidak lewat waktu salat.” Pak RT berdiri, wajan...

Apa Apaan Sih Kok Maunya

Di gang Kampung Melati, rapat RT mendadak ricuh. Bukan karena iuran, melainkan karena kucing oren Bu Siti duduk di kursi ketua sambil memakai dasi dari tali sepatu. “Apa apaan sih kok maunya?” tanya Pak RT, keningnya berkerut. Bu Siti mengangkat bahu. “Dia bilang capek mengeong sendirian. Maunya jadi ketua RT, tapi cuma satu siang.” Warga saling pandang. Kucing itu mendorong buku tamu dengan cakarnya. Di situ tertulis: tidur siang wajib, ikan gratis, dan siapa yang membangunkan orang yang sedang bermimpi harus minta maaf dengan senyum. “Apa apaan sih kok maunya?” ulang Pak Dedi. “Kucing kan tidak bisa tanda tangan!” Voting pun dilakukan dengan kacang tanah. Hasilnya seri, sampai kucing bersin dan satu kacang jatuh ke mangkuk “setuju”. Sah. Sore itu gang menjadi sunyi yang aneh. Kucing tertidur di meja rapat, dasinya miring, sementara warga pulang terkikik. Besoknya Pak RT kembali menjabat, tapi dasi tali sepatu itu ia simpan di laci. Siapa tahu suatu hari ia juga ingin libur dengan car...

Aku Taqut Aku Yang Meninggal Qarena Lapar

Aku terbangun tengah malam dengan perut yang berbunyi seperti motor mogok. “Ini dia,” bisikku dramatis. “Aku akan meninggal karena lapar.” Jam baru menunjukkan pukul sebelas. Makan malam baru dua jam lalu. Tapi otakku sudah menulis surat wasiat: “Jika aku pergi, wariskan nasi goreng-ku pada tetangga yang paling sopan.” Aku merangkak ke dapur sambil menangis kecil. Kulkas kosong, kecuali sebutir telur dan sehelai daun bawang yang terlihat putus asa. Aku menatap telur itu seperti pahlawan terakhir. “Jangan tinggalkan aku,” kataku pada telur. Tiba-tiba ibu muncul, rambut berantakan, memegang sendok. “Kenapa kau bicara dengan telur?” “Aku sekarat, Bu.” Ibu menghela napas, lalu menyodorkan sepiring sisa pempek yang ternyata disimpan di rak atas. Aku makan tiga suap, lalu langsung hidup kembali seperti karakter game yang dapat nyawa tambahan. “Jadi,” kata ibu, “surat wasiatnya batal?” Aku mengangguk khidmat. “Batal. Tapi tolong jangan simpan pempek terlalu tinggi. Nanti aku meninggal karena ...

Laparnya Dicakar Hewan Qucing

Pada suatu siang, perut Ali berbunyi “krucuk-krucuk” sampai tetangga mengira ada mesin cuci rusak. Qucing, kucing peliharaannya, terbangun dan yakin ada tikus nakal bersembunyi di dalam perut itu. Qucing langsung meloncat ke pangkuan Ali lalu mencakar perutnya pelan-pelan, seolah sedang memanggil tikus keluar. Ali tertawa tergelitik sampai hampir jatuh dari kursi. “Itu bukan tikus, Qucing! Itu lapar!” Qucing tidak peduli. Cakarannya makin rajin. Entah kenapa, rasa lapar Ali ikut geli, lalu meloncat keluar dari perutnya dalam wujud bayangan kecil yang malu-malu. Bayangan itu berlari ke dapur, membuka kulkas, dan mengambil sepotong roti dengan sopan. Ali dan Qucing mengikuti. Mereka bertiga duduk di lantai. Lapar itu mengunyah roti sambil berkata, “Terima kasih sudah dicakar. Sekarang aku kenyang dan tidak mau mengganggu lagi.” Qucing mengangguk puas, lalu tertidur di atas roti sisa. Ali hanya geleng-geleng kepala, tapi perutnya sudah tenang. Sejak itu, setiap kali lapar datang, Qucing s...