Postingan

Ketek Kebakar

Di sebuah kampung kecil yang damai nan asri, tinggal Udin, pemuda yang terkenal suka bereksperimen aneh-aneh. Suatu pagi cerah, ia menemukan tips konyol di grup WhatsApp: untuk mengusir bau ketek selamanya, oleskan minyak kayu putih lalu dekatkan perlahan ke nyala lilin. Penasaran, Udin langsung mencoba di kamarnya. Ia oleskan minyak itu tebal-tebal ke ketek kanan, lalu mendekatkan lilin. Tiba-tiba, “cit cit!” api kecil menyambar kulitnya. “Aduh, ketekku kebakar!” jeritnya keras sambil meloncat-loncat seperti katak yang kesetrum. Bu Siti, tetangga sebelah yang sedang asyik menyiram tanaman cabai, mendengar teriakan itu. Ia mengira terjadi kebakaran hebat dan segera mengambil ember penuh air. Tanpa pikir panjang, Bu Siti menyiramkan air itu ke arah Udin yang berlari keluar. Air muncrat ke sana kemari, mengenai kucing gemuk tetangga yang sedang tidur pulas di bawah pohon mangga. Kucing itu terbangun dengan marah, bulunya basah, dan langsung mengejar Udin mengelilingi halaman sambil menge...

Pisang Ambon

Pak Udin baru saja duduk di warung, ketika pisang Ambon di piringnya tiba-tiba berdiri tegak dan berdehem. “Permisi, Pak,” kata pisang itu dengan suara kecil tapi tegas. “Saya tidak mau dimakan siang ini.” Pak Udin terkejut sampai sendoknya jatuh. “Lho, kenapa?” “Saya sedang ada janji,” jawab pisang itu sambil melirik jam dinding. “Ada rapat antar buah di kulkas. Mangga jadi ketua, apel jadi sekretaris, saya kebagian jadi pencatat aroma.” Bu Rina, pemilik warung, ikut membeku. “Pisangku bisa bicara?” “Bisa, Bu,” sahut pisang itu sopan. “Tapi hanya kalau disuguhi dengan niat baik. Hari ini aromanya sedang prima, sayang kalau langsung habis.” Pak Udin mengangguk pelan. “Kalau begitu, rapatnya sampai jam berapa?” Pisang Ambon tampak bingung. “Seharusnya sepuluh menit. Tapi kemarin jeruk nipis terlalu banyak bicara, jadi molor.” Akhirnya pisang itu melompat ke kulkas, membuka pintu dari dalam, lalu menutupnya lagi dengan bunyi “plek”. Lima belas menit kemudian, pintu kulkas terbuka. Pisang...

Keset Terbang

Pak RT baru saja membeli keset baru di pasar loak. Katanya, keset itu bekas istana. Entah istana mana, yang jelas warnanya lusuh dan baunya seperti kacang rebus. Begitu diletakkan di depan pintu, keset itu tiba-tiba naik setengah meter. Pak RT kaget, lalu naik. Keset pun terbang pelan, membawa beliau keliling gang sambil sopan mengucapkan salam ke tetangga. “Assalamualaikum, Bu!” serunya dari atas pagar. “Waalaikumsalam… Pak, itu keset atau layangan?” Keset itu ternyata pemalu. Kalau ditertawakan, ia terbang lebih tinggi. Kalau dipuji, ia mendarat mendadak. Akibatnya, Pak RT sempat nyangkut di jemuran, membawa serta tiga handuk dan satu bebek mainan. Warga berkumpul. Ada yang menyarankan disiram air. Ada yang mengusulkan dibacakan doa. Pak RT hanya memegang erat tepinya sambil berbisik, “Turun pelan-pelan, ya. Nanti saya belikan sabun.” Mendengar kata sabun, keset itu langsung mendarat di depan pintu, rapi seperti tidak pernah berbuat apa-apa. Sejak itu, ia hanya terbang kalau ada tamu...

Lima Belas Maret Ketawa

Pak RT mengumumkan bahwa tanggal lima belas Maret akan dijadikan Hari Ketawa Wajib. Alasannya sederhana: warga sudah terlalu serius sampai alisnya saling kenal. Pukul tujuh pagi, lonceng mushala berbunyi. Semua orang keluar rumah, berdiri di depan pagar, lalu tertawa serempak. Tawa Bu Siti terdengar seperti teko mendidih. Tawa Pak Darto mirip motor mogok. Anak-anak menirukan keduanya, lalu tertawa sendiri karena tidak mirip. Di tengah keramaian, kucing oranye milik Bu Lina ikut membuka mulut. Suaranya “meong”, tapi waktunya pas sekali. Semua orang mengira kucing itu ikut lomba. Bu Lina langsung memberinya piala dari mangkuk ikan. Pak RT mulai panik karena tertawanya sendiri malah tersedak kerupuk. Ia melambaikan tangan, minta bantuan. Warga mengira itu gerakan tawa tingkat lanjut, jadi mereka ikut melambai sambil tertawa lebih keras. Akhirnya datang hujan rintik-rintik. Semua orang berlari pulang, masih tertawa, basah kuyup, dan lupa kenapa mereka tertawa. Di rumah, Pak RT menulis peng...

Ketek Bocor

Pak Darman sedang wawancara kerja di kantor ber-AC yang dingin sekali. Sayangnya, keteknya tetap “bocor”. Keringat merembes, lalu menetes ke meja seperti keran kecil yang lupa ditutup. “Maaf, Pak,” ujarnya sambil tersenyum kaku. “Ini bukan air mata. Ini… sistem pendingin tubuh saya sedang lembur.” Pewawancara mengernyit. Tetesan itu jatuh lagi. Pluk. Pluk. Pluk. Tiba-tiba tanaman hias di sudut ruangan tumbuh dua sentimeter. Ikan cupang di akuarium kecil melompat girang. Bahkan kipas angin berhenti berputar, seolah malas karena sudah ada sumber air gratis. “Wah,” kata pewawancara, “ketek Bapak ini produktif sekali.” Pak Darman panik. Ia mencoba mengangkat tangan, tapi airnya malah menyiram berkas lamaran hingga tulisan “siap bekerja keras” menjadi “siap bekerja basah”. Akhirnya ia diterima juga—bukan sebagai staf administrasi, melainkan sebagai “Kepala Irigasi Dadakan”. Tugasnya sederhana: jika taman kantor kering, cukup angkat tangan lima menit. Sejak itu, tanaman subur, ikan senang, d...

Panen Melulu

Pak Udin punya kebun kecil di belakang rumah. Sayangnya, kebun itu terlalu rajin. Pagi hari dia petik cabai, siang petik tomat, sore petik terong. Malamnya, mentimun masih nongol sambil bilang, “Giliran saya, Pak.” Besoknya lebih parah. Ia baru bangun, sudah ada labu di bantal. “Maaf, Pak, saya ikut panen,” katanya sopan. Istrinya, Bu Udin, hanya geleng-geleng. “Sudah, cukup. Nanti kita jual.” Tapi Pak Udin belum puas. Ia panen rumput, daun pintu, bahkan sendok sup. “Ini juga hasil kebun, Bu. Tumbuh di dapur.” Tetangga datang bawa keranjang kosong. “Pak, boleh minta sedikit?” “Boleh,” jawab Pak Udin. Lalu ia petik senyum tetangga itu dan taruh di keranjang. “Ini panen hari ini. Segar.” Tetangga pulang sambil tertawa, senyumnya belum sempat tumbuh lagi. Di penghujung hari, kebun benar-benar kosong. Pak Udin duduk lelah. Tiba-tiba perutnya keroncongan. “Wah,” gumamnya, “ternyata yang belum dipanen cuma rasa lapar.” Bu Udin menyodorkan sepiring sayur. “Makan dulu. Besok panen lagi… tapi y...

Kurap Kebakar

Di Kampung Roti Hangat, hiduplah jamur kecil bernama Kurap. Ia tidak mau disebut penyakit. Ia ingin disebut calon koki. Pagi itu Kurap mendaftar ke Sekolah Kebakar. Bu Arang, gurunya, berkata, “Di sini kita membakar roti, bukan membakar sabar.” Kurap mengangguk penuh semangat. Namun setiap ia meniup api, yang matang duluan justru kumis Bu Arang. Roti tetap pucat. Kue tetap malu-malu. Hanya asap yang merasa jadi bintang. Teman-temannya tertawa sopan. “Kurap, kau lebih jago menghangatkan suasana daripada menghangatkan adonan.” Kurap hampir menyerah, sampai melihat lilin ulang tahun Pak Lurah yang selalu bandel. Dengan satu tiupan kecil, lilin itu menyala meriah. Semua bertepuk tangan. Sejak itu ia resmi jadi Kurap Kebakar, ahli menyalakan lilin, bukan ahli menghanguskan dapur. Di setiap ulang tahun, ia datang dengan topi koki miring dan senyum lebar. Suatu hari ia meniup terlalu bangga, hingga kuenya ikut berseru, “Selamat ulang tahun… tolong kecilkan apinya, Kumis Bu Arang sudah cukup h...