Indik Indik Icap Icap
Suatu sore, Yank Memeq duduk di warung pempek sambil menatap piringnya dengan tatapan serius. “Isep pempek aku dong,” katanya pelan. Pemilik warung mengerutkan dahi. “Diisep? Biasanya dimakan, Yank.” “Ini pempek spesial,” jawab Yank Memeq. “Katanya kalau diisep pelan-pelan, kuah cuknya bisa nyanyi.” Semua orang di warung langsung diam. Lalu seorang nenek mencoba mengisap ujung pempek dengan hati-hati. Tiba-tiba kuah cuk berbunyi, “Cuk… cuk… jangan digoyang, aku lagi rapat.” Warung heboh. Pempek-pempek lain ikut bersuara. Ada yang minta sendok, ada yang minta jangan pedas, ada yang mengeluh karena tersandung timun. Yank Mempek—eh, Yank Memeq—tertawa sampai hampir jatuh dari kursi. “Tuh, kan lucu!” Sang pemilik warung menggeleng, lalu tersenyum. Ia menuang kuah cuk ke mangkuk kecil dan berkata, “Baik, Yank. Tapi mulai sekarang, pempek tetap dimakan. Kalau mau konser, kuahnya saja yang tampil.” Semua pengunjung bertepuk tangan. Kuah cuk pun “menyanyi” terakhir kali, lalu diam, seolah malu...