Marah Marah
Malam itu rumah terasa sempit. Lampu ruang tamu redup, tapi suasananya panas karena suara mereka yang saling memotong. “Kamu selalu begini, Raka. Selalu ngilang tanpa kabar, terus pulang seolah nggak ada yang salah,” kata Dinda, suaranya bergetar marah. Rambut hitamnya berantakan, kemeja tipisnya sedikit terbuka di atas karena napasnya cepat. Raka melempar kunci mobil ke meja. “Aku capek, Din. Jangan mulai.” “Capek?” Dinda melangkah mendekat, matanya menyala. “Aku yang nunggu sampe tengah malam, hp-mu mati, dan kamu cuma bilang capek?” Mereka berdiri terlalu dekat. Amarah membuat dada mereka naik turun, napas saling beradu. Raka mencium aroma tubuh Dinda—campuran parfum manis dan keringat tipis yang membuat perutnya mengencang. Dia seharusnya mundur. Tapi tangannya sudah meraih pinggang Dinda, menariknya kasar sampai tubuh mereka menempel. “Lepas,” bisik Dinda, tapi suaranya tidak meyakinkan. Bibirnya setengah terbuka. “Nggak mau.” Raka menciumnya keras. Bukan ciuman lembut. Gigi merek...