Postingan

Tentram

Pak Tentram punya cita-cita sederhana: ingin hidup tenang. Sayangnya, desa tempat tinggalnya kurang setuju. Pagi itu ia membeli bantal ajaib yang dijamin menenangkan. Baru kepala menempel, bantal itu berteriak, “Bangun! Jangan malas!” Tentram terloncat dari dipan dan hampir menyapa lantai. Ia pindah ke kebun untuk mencari sunyi. Belum sempat menarik napas, kambing tetangga datang dan mengunyah topinya dengan sangat khusyuk, seolah topi itu menu spesial. “Sudahlah,” gumamnya. Ia berjalan ke masjid, berharap hati jadi ringan. Di jalan, anak-anak sedang lomba diam. Juara pertamanya malah tergelak karena kutu mendarat di hidungnya. Sesampainya di masjid, ponsel Tentram bergetar. Ibunya mengirim pesan: “Nak, jangan lupa beli tempe.” Tentram pulang sambil menggandeng kambing yang masih memakai sisa topinya. Tetangga mengira ada parade kecil. “Kalau begini,” katanya sambil tertawa, “kita tentram bersama saja.” Kambing mengangguk. Topi ikut mengangguk. Dan entah kenapa, hari itu rasanya memang...

Lilin

Di sebuah toko kelontong, ada sebatang lilin yang merasa dirinya adalah pahlawan. Namanya Lilin, dan ia sangat yakin bahwa dunia gelap hanya karena ia belum menyala. Suatu malam, listrik padam. Lilin langsung berseru, “Ini saatnya!” Ia digesek korek, lalu menyala dengan bangga. Cahayanya kecil, tapi sikapnya besar. “Mundur, kegelapan!” teriaknya sambil gemetar karena angin dari kipas tangan Bu Rina. Sayangnya, Lilin terlalu semangat. Ia membungkuk ke kiri, lalu ke kanan, seolah sedang menari. Lilin di sebelahnya berbisik, “Tenang, jangan drama.” Terlambat. Lilin menari terlalu kencang, lalu jatuh ke mangkuk kuah bakso yang masih hangat. Api padam seketika. Semua orang terdiam. Bu Rina mengangkatnya pelan. “Ya ampun, pahlawannya mabuk kuah.” Lilin, basah dan malu, hanya bisa bergumam, “Setidaknya… aku sudah mencoba.” Besoknya, ia dikeringkan dan dijadikan hiasan di atas kulkas. Setiap kali listrik padam, ia tetap diam, tapi diam-diam tersenyum. Katanya, pensiun dini juga mulia—apalagi k...

Korek Api

Di rumah Pak Dodi ada korek api yang mudah tersinggung. Namanya Kang Klik. Ia tidak mau menyala kalau merasa tidak dihormati. Pagi itu kompor perlu dinyalakan, tetapi Kang Klik hanya berbunyi, “Klik. Tidak mood.” “Gasmu habis?” tanya Pak Dodi. “Bukan,” jawab Kang Klik. “Semalam Bapak menaruh saya di samping bawang. Baunya menusuk. Saya ini alat terhormat, bukan teman bumbu dapur.” Pak Dodi menahan tawa, lalu meminta maaf. Ia meletakkan Kang Klik di atas serbet bersih dan berkata, “Silakan, Yang Mulia.” Kang Klik batuk kecil, lalu mengeluarkan api mungil berbentuk senyum. Kompor menyala, telur pun matang. Namun saat api hendak dipadamkan, Kang Klik berseru, “Tunggu! Saya baru mulai penampilan. Minta tepuk tangan dulu.” Satu rumah pun bertepuk tangan di dapur. Kang Klik puas, lalu masuk ke kotaknya sambil bermimpi menjadi lampu panggung. Keesokan harinya ia bangun dan berkata pelan, “Hari ini saya cuti. Silakan pakai kompor listrik. Dan lain kali, jangan dekati saya dengan bawang, kecual...

Marah Marah

Malam itu rumah terasa sempit. Lampu ruang tamu redup, tapi suasananya panas karena suara mereka yang saling memotong. “Kamu selalu begini, Raka. Selalu ngilang tanpa kabar, terus pulang seolah nggak ada yang salah,” kata Dinda, suaranya bergetar marah. Rambut hitamnya berantakan, kemeja tipisnya sedikit terbuka di atas karena napasnya cepat. Raka melempar kunci mobil ke meja. “Aku capek, Din. Jangan mulai.” “Capek?” Dinda melangkah mendekat, matanya menyala. “Aku yang nunggu sampe tengah malam, hp-mu mati, dan kamu cuma bilang capek?” Mereka berdiri terlalu dekat. Amarah membuat dada mereka naik turun, napas saling beradu. Raka mencium aroma tubuh Dinda—campuran parfum manis dan keringat tipis yang membuat perutnya mengencang. Dia seharusnya mundur. Tapi tangannya sudah meraih pinggang Dinda, menariknya kasar sampai tubuh mereka menempel. “Lepas,” bisik Dinda, tapi suaranya tidak meyakinkan. Bibirnya setengah terbuka. “Nggak mau.” Raka menciumnya keras. Bukan ciuman lembut. Gigi merek...

Jamet

Malam itu gerimis tipis di emperan warung kopi pinggir jalan. Lampu neon kedip-kedip, asap rokok nempel di udara lembap. Dika duduk di bangku plastik, sandal jepit sudah longgar di kaki, kaos oblong ketat nempel di dada karena keringat dan gerimis. Rambutnya agak gondrong, anting kecil di telinga kiri, kalung emas palsu mengilat di leher. Ia jamet banget—cara duduknya melebar, cara meliriknya kasar tapi bikin penasaran. Di seberangnya, Rina baru turun dari angkot. Rok ketat di atas lutut, kaos crop yang nampakin perut, tas selempang murahan. Rambutnya dikuncir tinggi, alis tebal, bibir merah. Ia juga jamet, tapi yang lebih diam dan tajam. Matanya ketemu mata Dika, dan dunia di sekitar mereka kayak mengecil. “Neng, mau nimbrung?” suara Dika rendah, sengaja. Rina tidak langsung jawab. Ia mendekat, berdiri di antara kedua paha Dika yang terbuka. Bau keringat campur parfum murah langsung menerpa. “Berani banget manggil neng. Kenal dari mana?” “Dari cara lo ngeliat gua tadi. Mata lo udah bi...

Ketapang

Malam di Ketapang terasa lengket. Angin dari laut membawa garam dan bau tanah basah, sementara daun-daun pohon ketapang di tepi pantai berdesir pelan. Rina berdiri di bawah salah satu pohon itu, kaos tipisnya sudah menempel di punggung karena keringat. Usianya tiga puluh dua. Tubuhnya berisi, payudara penuh yang selalu membuat bra ketat, pinggul lebar, dan paha yang saling bergesekan setiap kali dia melangkah. Dia menunggu. Doni muncul dari gelap, kaus oblong basah di dada, celana pendek longgar. Tiga puluh lima, tinggi, otot lengan yang sudah mulai kendur tapi masih kuat. Mereka tidak banyak bicara. Tatapan saja sudah cukup. Rina menariknya ke bayang-bayang pohon. Bibir mereka bertemu kasar. Lidah Doni langsung masuk, menjilat, menghisap, sementara tangannya meremas pantat Rina dari luar rok. Rina mengerang pelan ke dalam mulutnya. “Kangen,” bisik Doni, suaranya serak. Tangannya naik, menyelinap di bawah kaos, menemukan payudara tanpa bra. Jari-jarinya mencubit puting yang sudah keras...

Popcorn

Pada suatu malam yang tenang, Pak Ahmad duduk di sofa sambil menonton televisi dan mengunyah popcorn kesukaannya. Tiba-tiba, satu butir popcorn melompat tinggi dari mangkuk dan berseru dengan suara melengking, "Hei, berhenti! Aku belum siap menjadi camilan!" Pak Ahmad hampir tersedak karena kaget. Popcorn nakal itu segera memanggil saudara-saudaranya. Dalam sekejap, puluhan popcorn berdiri tegak dan membentuk barisan rapi seperti pasukan kecil yang gagah. "Kami Pasukan Popcorn Siap Tempur!" pekik si pemimpin yang ujungnya agak gosong. Mereka pun bergerak serempak menuju remote televisi dan memencet tombol hingga saluran berubah menjadi kartun lucu. Pak Ahmad tertawa terpingkal-pingkal hingga perutnya sakit. "Kalian lebih hebat dari semua komedian!" Belum puas beraksi, para popcorn berusaha memanjat meja untuk meraih garam. "Garam adalah sumber kekuatan kami!" teriak mereka semangat. Sayangnya, tubuh mereka terlalu ringan sehingga terpeleset dan t...