Apa Apaan Sih Kok Maunya
Di gang Kampung Melati, rapat RT mendadak ricuh. Bukan karena iuran, melainkan karena kucing oren Bu Siti duduk di kursi ketua sambil memakai dasi dari tali sepatu. “Apa apaan sih kok maunya?” tanya Pak RT, keningnya berkerut. Bu Siti mengangkat bahu. “Dia bilang capek mengeong sendirian. Maunya jadi ketua RT, tapi cuma satu siang.” Warga saling pandang. Kucing itu mendorong buku tamu dengan cakarnya. Di situ tertulis: tidur siang wajib, ikan gratis, dan siapa yang membangunkan orang yang sedang bermimpi harus minta maaf dengan senyum. “Apa apaan sih kok maunya?” ulang Pak Dedi. “Kucing kan tidak bisa tanda tangan!” Voting pun dilakukan dengan kacang tanah. Hasilnya seri, sampai kucing bersin dan satu kacang jatuh ke mangkuk “setuju”. Sah. Sore itu gang menjadi sunyi yang aneh. Kucing tertidur di meja rapat, dasinya miring, sementara warga pulang terkikik. Besoknya Pak RT kembali menjabat, tapi dasi tali sepatu itu ia simpan di laci. Siapa tahu suatu hari ia juga ingin libur dengan car...