Tentram
Pak Tentram punya cita-cita sederhana: ingin hidup tenang. Sayangnya, desa tempat tinggalnya kurang setuju. Pagi itu ia membeli bantal ajaib yang dijamin menenangkan. Baru kepala menempel, bantal itu berteriak, “Bangun! Jangan malas!” Tentram terloncat dari dipan dan hampir menyapa lantai. Ia pindah ke kebun untuk mencari sunyi. Belum sempat menarik napas, kambing tetangga datang dan mengunyah topinya dengan sangat khusyuk, seolah topi itu menu spesial. “Sudahlah,” gumamnya. Ia berjalan ke masjid, berharap hati jadi ringan. Di jalan, anak-anak sedang lomba diam. Juara pertamanya malah tergelak karena kutu mendarat di hidungnya. Sesampainya di masjid, ponsel Tentram bergetar. Ibunya mengirim pesan: “Nak, jangan lupa beli tempe.” Tentram pulang sambil menggandeng kambing yang masih memakai sisa topinya. Tetangga mengira ada parade kecil. “Kalau begini,” katanya sambil tertawa, “kita tentram bersama saja.” Kambing mengangguk. Topi ikut mengangguk. Dan entah kenapa, hari itu rasanya memang...