Postingan

Preman

Di gang Kampung Melati, Bang Juki terkenal sebagai preman paling galak—setidaknya menurut papan nama yang ia buat sendiri. Setiap sore ia berdiri di depan warung Bu Minah dan berteriak, “Bayar uang keamanan!” Bu Minah mengangguk tenang. “Berapa, Bang?” “Satu piring nasi uduk. Bumbunya harus pas, sambalnya jangan pelit.” Suatu hari, seorang pengantar paket tersesat. Juki menghadang dengan gaya heroik. “Wilayahku! Serahkan sesuatu!” Pengantar itu bingung, lalu memberikan permen karet rasa durian. Juki mengunyahnya gagah, sampai permen lengket di kumis palsu warisannya. Kumis itu copot, melayang, dan mendarat tepat di panci soto Bu Minah. “Kumis leluhurku!” teriak Juki. Ia menyambar sendok, terpeleset, dan tercebur. Keluar dari panci, ia basah kuyup, berbau kuah, dan disambut tepuk tangan anak-anak yang menjulukinya Preman Soto Terbang. Sejak itu Juki berhenti memalak. Ia malah membantu mengaduk soto, meski kumis barunya selalu ikut mengapung. Pelanggan pulang kenyang, tertawa, dan gang i...

Kalah

Di halaman rumah, Dodi menantang ayam tetangga untuk lomba menatap. Siapa yang lebih dulu mengedip, dia kalah. Hadiahnya satu butir telur rebus—yang, kata Dodi dengan sangat yakin, memang milik ayam itu sendiri. Mereka duduk berhadapan di bawah pohon mangga. Dodi membelalakkan mata sampai berair. Ayam itu hanya memiringkan kepala, lalu mematuk tanah seolah dunia ini penuh jagung rahasia yang tidak boleh dilewatkan. Menit pertama, Dodi mulai gemetar. Menit kedua, seekor lalat hinggap di hidungnya. Ia menahan sekuat tenaga. Menit ketiga, lalat itu berjalan santai ke alis, seperti sedang inspeksi. Dodi kalah telak. Matanya terkatup rapat. “Aku kalah!” teriaknya, setengah menangis setengah tertawa. Ayam itu berkokok pelan, seperti mengucapkan terima kasih, lalu pergi tanpa mengambil telur. Telur rebus itu masih hangat di tangan Dodi. Ibunya muncul dari dapur sambil membawa teh. “Jadi pemenangnya siapa?” “Ayam,” jawab Dodi lesu. “Kalau begitu telur itu buat kamu. Hadiah hiburan bagi yang ka...

By 1

Di warung Pak RT muncul papan baru: “Makan gratis, by 1.” Semua orang langsung rapat darurat di depan gerobak. Pak Kumis mengangguk serius. “Ini bahasa luar. Artinya satu-satu.” Bu RT membawa satu sendok. Anak-anak membawa satu kacang. Ada yang datang dengan satu sandal, karena dia yakin “by” artinya “bawa yang penting.” Antrean makin ramai. Seseorang memesan “by satu nasi,” yang lain memesan “by satu senyum.” Penjual hanya bisa menggaruk kepala sambil menghitung orang, sandal, dan kacang. Siang itu, mahasiswa magang pemilik papan datang dengan muka pucat. “Salah ketik,” katanya. “Maksud saya bayar 1. Satu rupiah. Hurufnya kabur semua.” Warung senyap sejenak, lalu meledak tertawa. Pak Kumis menatap sendoknya. “Saya antre panjang demi satu rupiah?” “Iya, Pak.” “Murah sekali. Kalau begitu, tambah doa supaya mesin ketikmu cepat insaf.” Promo dibatalkan, tetapi semua pulang kenyang oleh tawa. Besoknya papan diganti: “BAYAR SEPERTI BIASA. MESIN KETIK SEDANG DIAMANKAN.”

Tindik Mata Biru

Di kios “Tusuk Senyum”, Pak Rahman masuk sambil memeluk poster kucing bermata biru. “Mas, saya mau Tindik Mata Biru. Biar tampil segar, tapi tetap sopan.” Mas Joko, sang tukang tindik, mengangguk penuh ilmu. Ia menyiapkan kelereng biru, pita kain, dan cermin retak kesayangannya. Tiba-tiba ikan cupang hias di ember dekorasi melompat, kelereng menggelinding, dan poster kucing terbang menempel di dahi Pak Rahman. “Selesai!” seru Mas Joko. Pak Rahman menatap cermin. Di telinganya tergantung kelereng biru berpita, sementara dahi dihiasi mata kucing dari poster. Seorang tetangga lewat dan berseru, “Wah, matanya pindah ke telinga! Praktis sekali.” Pak Rahman tertawa. “Lumayan. Sekarang saya bisa melihat dunia dari samping, asal kelerengnya tidak jatuh ke sup.” Ikan cupang mendapat tepuk sayap kehormatan, dan semua orang pulang sambil tersenyum.

Lemes

Di sebuah pagi yang cerah, Lemes bersiap pergi ke masjid. Namun, begitu melangkah keluar rumah, tubuhnya mendadak lemes total. Lengannya menggantung seperti kain jemuran, dan kakinya tidak sanggup menopang. Ia duduk di tangga, pasrah. Tetangganya, Pak RT, lewat membawa sapu. “Lemes, kok kamu seperti boneka yang kehabisan baterai?” “Entahlah, Pak. Mungkin karena semalam begadang nonton kartun,” jawab Lemes sambil tersenyum malu. Pak RT tertawa. “Ayo, saya bantu.” Ia mengangkat Lemes seperti karung beras yang ringan, lalu meletakkannya di gerobak dorong. Lemes merasa seperti raja yang diantar, meski gerobaknya berbunyi kresek-kresek. Sesampai di masjid, Lemes sudah agak pulih. Ia shalat dengan khusyuk, walaupun sekali-sekali tubuhnya masih ingin rebahan. Setelah selesai, imam tersenyum. “Lemes, kamu tadi hampir jadi sajadah berjalan.” Semua jamaah tertawa ringan. Lemes menggaruk kepala. “Besok saya tidur lebih awal, biar tidak lemes lagi.” Ia pulang dengan berjalan normal, sambil sesekal...

Surplus

**Surplus** means having more than you need — an excess. In everyday use, it’s leftover stock, extra money, or unused capacity. In economics, it usually refers to: - **Consumer surplus** — the gap between what buyers would pay and what they actually pay - **Producer surplus** — the gap between the price sellers receive and the lowest price they’d accept - **Budget surplus** — when revenue exceeds spending If you had a specific sense in mind (economics, business, something else), say which one and I can go deeper.

Semur Jengkol

Dinda berdiri di depan kompor, rambutnya diikat asal, kaos tipisnya sudah basah keringat di bagian punggung. Aroma semur jengkol memenuhi dapur—kental, menyengat, manis-gurih dari kecap dan gula merah yang mengental. Jengkol yang sudah direbus lama itu pecah di dalam panci, mengeluarkan bau khas yang biasanya bikin orang minggir, tapi malam ini justru bikin napas Dinda lebih pendek. Raka masuk tanpa suara. Tangannya langsung melingkar di pinggang istrinya dari belakang. “Masih belum mateng?” suaranya rendah, bibirnya menyentuh tengkuk Dinda yang lembap. Dinda menggeleng kecil, sendok pengaduk masih di tangan. Raka tidak menunggu. Ia menggeser tali daster Dinda sampai bahu telanjang, lalu menurunkan kain itu sampai ke pinggul. Payudara Dinda yang berat jatuh bebas, putingnya sudah menegang karena udara dapur yang panas dan sentuhan kasar jari Raka. “Bau jengkolnya nempel di kulit kamu,” Raka bergumam sambil mencium bahu Dinda, lidahnya menjilat garis keringat. Tangannya meremas payudara...