Postingan

Surplus

**Surplus** means having more than you need — an excess. In everyday use, it’s leftover stock, extra money, or unused capacity. In economics, it usually refers to: - **Consumer surplus** — the gap between what buyers would pay and what they actually pay - **Producer surplus** — the gap between the price sellers receive and the lowest price they’d accept - **Budget surplus** — when revenue exceeds spending If you had a specific sense in mind (economics, business, something else), say which one and I can go deeper.

Semur Jengkol

Dinda berdiri di depan kompor, rambutnya diikat asal, kaos tipisnya sudah basah keringat di bagian punggung. Aroma semur jengkol memenuhi dapur—kental, menyengat, manis-gurih dari kecap dan gula merah yang mengental. Jengkol yang sudah direbus lama itu pecah di dalam panci, mengeluarkan bau khas yang biasanya bikin orang minggir, tapi malam ini justru bikin napas Dinda lebih pendek. Raka masuk tanpa suara. Tangannya langsung melingkar di pinggang istrinya dari belakang. “Masih belum mateng?” suaranya rendah, bibirnya menyentuh tengkuk Dinda yang lembap. Dinda menggeleng kecil, sendok pengaduk masih di tangan. Raka tidak menunggu. Ia menggeser tali daster Dinda sampai bahu telanjang, lalu menurunkan kain itu sampai ke pinggul. Payudara Dinda yang berat jatuh bebas, putingnya sudah menegang karena udara dapur yang panas dan sentuhan kasar jari Raka. “Bau jengkolnya nempel di kulit kamu,” Raka bergumam sambil mencium bahu Dinda, lidahnya menjilat garis keringat. Tangannya meremas payudara...

Lemper Ayam

Aroma ketan dan ayam bumbu kuning masih menempel di jari-jarinya ketika Raka menarik Sinta ke pangkuannya di meja dapur. Lemper yang baru saja dibungkus masih hangat, beberapa butir ketan lengket menempel di bibir bawah Sinta. Raka tidak sabar. Lidahnya menyapu sisa itu, lalu terus masuk, menciumnya dalam-dalam sampai Sinta mengerang pelan dan pinggulnya bergeser di atas paha Raka. “Masih ada yang lengket,” bisik Raka, suaranya rendah. Tangannya mengangkat pinggiran daster Sinta, menyingkap paha mulusnya. Tidak ada celana dalam. Memeknya sudah basah, mengkilap kena cahaya lampu dapur, cairan bening menetes pelan ke paha dalam. Raka mengusap dua jari di sepanjang belahan itu, mengumpulkan lendir, lalu membawa jari itu ke mulut Sinta. “Jilat.” Sinta menjilat, mata setengah terpejam, lidahnya memutar di sela jari Raka seperti sedang membersihkan sisa ketan. Raka mendesis. Kontolnya sudah tegang keras di dalam celana pendek, mencuat dan menekan pantat Sinta. Ia menurunkan resleting, mengel...

Gapernah Bohong

Di kampung yang ramai, tinggal Pak Jujur. Ia terkenal karena gapernah bohong. Bahkan saat ditanya, “Pak, nasinya enak?” ia menjawab, “Enak, tapi garamnya sedikit kurang.” Suatu pagi, tetangganya bertanya, “Pak Jujur, kucing saya gemuk atau kurus?” “Gemuk,” jawab Pak Jujur. “Perutnya seperti panci yang sedang berlibur.” Si kucing tersinggung, lalu melompat ke atap dan menolak turun. Warga berkumpul. Ada yang membawa tangga, ada yang membawa ikan, ada yang membawa nasihat. “Turunlah, Nak,” kata Pak RT. Kucing itu hanya menggeleng. Pak Jujur menghela napas, lalu berkata pelan, “Maaf, aku tadi kurang tepat. Kamu bukan gemuk. Kamu… berisi berkah.” Kucing itu menoleh. Ekornya bergoyang. “Dan kamu pandai menyimpan rahasia,” tambah Pak Jujur, “karena sampai sekarang belum ada yang tahu di mana ikan kaleng kemarin menghilang.” Tiba-tiba kucing itu turun, duduk manis, lalu mendorong kaleng ikan dari balik pot bunga. Warga tertawa. Si kucing pura-pura tidak kenal kaleng itu. Sejak hari itu, Pak J...

Punten

Bang Odeng mau beli gorengan. Sayangnya, ia terlalu sopan. “Punten,” katanya pada pagar. “Punten,” pada kucing yang sedang tidur. “Punten,” pada angin yang lewat. Bahkan bayangannya sendiri disapa, “Punten, duluan ya.” Di jalan, ia berhenti lagi. Ada semut menyeberang. “Punten, semut. Pelan-pelan.” Sampai di warung, gorengan sudah habis. Bang Odeng menunduk. “Punten, Bu. Saya telat karena banyak yang harus saya permisi.” Ibu warung tertawa. “Punten juga, Bang. Gorengannya habis dimakan orang yang tidak bilang punten sama sekali.” Perut Bang Odeng berbunyi keras. Ia menepuk perutnya pelan. “Punten, perut. Sabar.” Perutnya seolah menjawab dengan bunyi lebih keras. Bang Odeng mengangguk. “Baik. Kita pulang. Tapi punten dulu pada jalan.” Di rumah, ia membuka kulkas. Kosong. “Punten,” katanya pada kulkas. Kulkas tidak menjawab. Tapi es batu di dalamnya berbunyi “krek”. Bang Odeng tersenyum. “Nah, itu. Setidaknya es batu sopan.” Lalu ia duduk, minum air putih, dan berkata pada gelas, “Punten...

Penak Enak Pinarak Asik Banget Mata Kelap Kelip Damai Anjing

Di sebuah warung lesehan, datang seekor anjing bernama Damai. Matanya kelap-kelip tenang, seolah dunia ini tidak pernah terburu-buru. Siapa pun yang duduk di dekatnya langsung merasa penak, enak, dan malas berdiri. Pak RT yang hanya ingin pinarak sebentar malah tertidur sambil memegang sendok. Bu RT yang datang menjemput ikut duduk, lalu berkata, “Asik banget, ya. Kenapa kaki saya mendadak ingin cuti?” Anjing Damai mengedip sekali. Semua orang mengedip balas, padahal tidak ada yang tahu aturannya. Es teh menjadi lebih manis, kerupuk menjadi lebih renyah, dan nyamuk pun antre dengan sopan sebelum hinggap. Ketika azan Maghrib berkumandang, Damai berdiri, menggonggong pelan, lalu menuntun semua orang ke masjid. Sesampainya di sana, ia duduk di teras, mata tetap kelap-kelip, seolah berkata, “Silakan ibadah. Saya jaga sandal.” Pulang dari masjid, orang-orang baru sadar: perang mereka tadi sebenarnya rebutan bantal warung. Damai mengibaskan ekor, lalu pulang dengan langkah damai, meninggalka...

Tanpa Sadar Buka Celana

Malam itu ruang tamu mereka hanya diterangi lampu redup dan suara televisi yang pelan. Rina, dua puluh sembilan tahun, tubuhnya hangat dan sedikit lembap setelah mandi, bersandar di sofa dengan kepala terkulai di paha suaminya. Dimas, tiga puluh dua, masih memakai celana training longgar. Ia sendiri juga lelah, satu tangan mengelus rambut Rina sambil setengah memperhatikan layar. Rina mengantuk berat. Napasnya pelan, bibirnya sedikit terbuka. Tangannya yang lemas bergerak tanpa arah, jari-jari meraba kain celana Dimas seperti sedang mencari sesuatu dalam mimpi. Ia tidak sadar jarinya sudah menemukan tali celana, menariknya longgar, lalu menyelip ke dalam. Kulit hangat Dimas terasa di ujung jarinya. Kontol suaminya, yang tadinya lunak, mulai bereaksi pelan di bawah sentuhan tidak sadar itu. Dimas menahan napas. Ia melihat tangan istrinya bergerak sendiri, membuka celana trainingnya sampai pinggang turun sedikit. Boxer ikut tersingkap. Kontolnya yang mulai tegang keluar, batang tebal han...