Postingan

Indik Indik Icap Icap

Suatu sore, Yank Memeq duduk di warung pempek sambil menatap piringnya dengan tatapan serius. “Isep pempek aku dong,” katanya pelan. Pemilik warung mengerutkan dahi. “Diisep? Biasanya dimakan, Yank.” “Ini pempek spesial,” jawab Yank Memeq. “Katanya kalau diisep pelan-pelan, kuah cuknya bisa nyanyi.” Semua orang di warung langsung diam. Lalu seorang nenek mencoba mengisap ujung pempek dengan hati-hati. Tiba-tiba kuah cuk berbunyi, “Cuk… cuk… jangan digoyang, aku lagi rapat.” Warung heboh. Pempek-pempek lain ikut bersuara. Ada yang minta sendok, ada yang minta jangan pedas, ada yang mengeluh karena tersandung timun. Yank Mempek—eh, Yank Memeq—tertawa sampai hampir jatuh dari kursi. “Tuh, kan lucu!” Sang pemilik warung menggeleng, lalu tersenyum. Ia menuang kuah cuk ke mangkuk kecil dan berkata, “Baik, Yank. Tapi mulai sekarang, pempek tetap dimakan. Kalau mau konser, kuahnya saja yang tampil.” Semua pengunjung bertepuk tangan. Kuah cuk pun “menyanyi” terakhir kali, lalu diam, seolah malu...

Lirikan Mata Aku Kejepit Pintu Bawah Dalam Dalam

Pada suatu pagi yang tenang, aku sedang menyapu lantai ruang tamu. Tiba-tiba lirikan mataku yang iseng melirik ke celah pintu bawah lemari. Entah bagaimana, lirikan itu malah kejepit dalam-dalam! Aku panik dan berjongkok. “Keluar, lirikan!” bisikku. Dari dalam pintu terdengar suara kecil, “Dingin di sini, aku mau tinggal sebentar.” Ibuku datang membawa teh. “Kenapa kamu bicara sendiri?” “Lirikan mataku kejepit pintu bawah, Bu,” jawabku jujur. Ibu tertawa sampai tehnya tumpah sedikit. “Coba ucapkan bismillah, lalu tarik pelan.” Aku ikut. “Bismillah.” Aku tarik lembut. Lirikan itu keluar sambil menggenggam secarik kertas kecil bertuliskan “maaf, aku penasaran.” Kami berdua terpingkal-pingkal. Akhirnya kertas itu kami jadikan penanda buku, dan lirikan mataku berjanji hanya akan melirik hal-hal yang bermanfaat saja. Rumah jadi ramai tawa sampai siang.

Lirikan Mata Aku Kejepit Pintu Bawah Dalam Dalam

Pada suatu pagi yang tenang, aku sedang menyapu lantai ruang tamu. Tiba-tiba lirikan mataku yang iseng melirik ke celah pintu bawah lemari. Entah bagaimana, lirikan itu malah kejepit dalam-dalam! Aku panik dan berjongkok. “Keluar, lirikan!” bisikku. Dari dalam pintu terdengar suara kecil, “Dingin di sini, aku mau tinggal sebentar.” Ibuku datang membawa teh. “Kenapa kamu bicara sendiri?” “Lirikan mataku kejepit pintu bawah, Bu,” jawabku jujur. Ibu tertawa sampai tehnya tumpah sedikit. “Coba ucapkan bismillah, lalu tarik pelan.” Aku ikut. “Bismillah.” Aku tarik lembut. Lirikan itu keluar sambil menggenggam secarik kertas kecil bertuliskan “maaf, aku penasaran.” Kami berdua terpingkal-pingkal. Akhirnya kertas itu kami jadikan penanda buku, dan lirikan mataku berjanji hanya akan melirik hal-hal yang bermanfaat saja. Rumah jadi ramai tawa sampai siang.

Isep Pempek Aku Dong Yank Memeq

Suatu sore, Yank Memeq duduk di warung pempek sambil menatap piringnya dengan tatapan serius. “Isep pempek aku dong,” katanya pelan. Pemilik warung mengerutkan dahi. “Diisep? Biasanya dimakan, Yank.” “Ini pempek spesial,” jawab Yank Memeq. “Katanya kalau diisep pelan-pelan, kuah cuknya bisa nyanyi.” Semua orang di warung langsung diam. Lalu seorang nenek mencoba mengisap ujung pempek dengan hati-hati. Tiba-tiba kuah cuk berbunyi, “Cuk… cuk… jangan digoyang, aku lagi rapat.” Warung heboh. Pempek-pempek lain ikut bersuara. Ada yang minta sendok, ada yang minta jangan pedas, ada yang mengeluh karena tersandung timun. Yank Mempek—eh, Yank Memeq—tertawa sampai hampir jatuh dari kursi. “Tuh, kan lucu!” Sang pemilik warung menggeleng, lalu tersenyum. Ia menuang kuah cuk ke mangkuk kecil dan berkata, “Baik, Yank. Tapi mulai sekarang, pempek tetap dimakan. Kalau mau konser, kuahnya saja yang tampil.” Semua pengunjung bertepuk tangan. Kuah cuk pun “menyanyi” terakhir kali, lalu diam, seolah malu...

Isap Pentil Aku Dong Yank, Ban!

Yank Ban sedang tidur di bawah pohon mangga ketika Pak RT datang sambil menyeret sepeda ontel yang kempis total. “Isap pentil aku dong, Yank Ban!” teriaknya. Yank melonjak. Sendok nasi gorengnya jatuh. Tiga kucing warung ikut menoleh, ekspresinya sama-sama tersinggung. “Pak,” bisik Yank, “kalimat itu berbahaya kalau diucapkan di tempat umum.” “Aku bicara pentil ban!” Pak RT menunjuk klep kecil di roda depan. “Anginnya habis. Lidahku masih kaku gara-gara kerupuk pagi ini.” Yank menghela napas lega, lalu memasang pompa dengan sangat khidmat, seolah sedang menunaikan amanah negara. Cit… cit… cit. Ban mulai gembung. Tiba-tiba kucing oranye melompat ke atas roda, mengira pentil itu mainan. Ban melenting. Kucing terbang, mendarat di ember sabun cuci. Busa meledak seperti salju dadakan. Pak RT berdiri di tengah busa, masih menggenggam pentil yang kini mengkilap. “Lain kali saya tulis di kertas saja,” katanya. Besoknya, di depan warung Yank terpampang papan baru: “ISI ANGIN. BUKAN ISI DRAMA. H...

Pinang Dibelah Delapan

Di Kampung Cikarang Hilir, Pak Bodin dijuluki Tukang Kawin. Bukan karena ia sering menikah, melainkan karena hobinya mencocokkan siapa saja yang berdiri berdekatan. Dua orang antre bakso? “Cocok!” Dua tetangga yang sama-sama lupa payung? “Jodoh!” Suatu pagi, ia melihat dua sandal jepit tertukar di depan masjid. Tanpa pikir panjang, Pak Bodin meniup peluit dan mengajak warga bersaksi. “Sandal kiri dan sandal kanan, saya satukan kembali!” teriaknya khidmat. Warga tertawa sampai perut keram. Pemilik sandal, Mas Juki dan Mbak Lala, saling pandang. Ternyata mereka sudah tiga tahun saling suka, tetapi selalu malu menyapa. Karena ulah sandal yang “dijodohkan” Pak Bodin, keduanya akhirnya berani bicara. Seminggu kemudian, bukan sandalnya yang menikah, melainkan Mas Juki dan Mbak Lala, dalam acara yang sah dan meriah. Pak Bodin hanya diminta menjadi saksi, sambil digamit istrinya agar tidak mencocokkan tamu undangan dengan kursi. Usai akad, peluitnya tertiup angin. Burung-burung di pohon serent...

Pindak Pinarak

Di Kampung Cikarang Hilir, Pak Bodin dijuluki Tukang Kawin. Bukan karena ia sering menikah, melainkan karena hobinya mencocokkan siapa saja yang berdiri berdekatan. Dua orang antre bakso? “Cocok!” Dua tetangga yang sama-sama lupa payung? “Jodoh!” Suatu pagi, ia melihat dua sandal jepit tertukar di depan masjid. Tanpa pikir panjang, Pak Bodin meniup peluit dan mengajak warga bersaksi. “Sandal kiri dan sandal kanan, saya satukan kembali!” teriaknya khidmat. Warga tertawa sampai perut keram. Pemilik sandal, Mas Juki dan Mbak Lala, saling pandang. Ternyata mereka sudah tiga tahun saling suka, tetapi selalu malu menyapa. Karena ulah sandal yang “dijodohkan” Pak Bodin, keduanya akhirnya berani bicara. Seminggu kemudian, bukan sandalnya yang menikah, melainkan Mas Juki dan Mbak Lala, dalam acara yang sah dan meriah. Pak Bodin hanya diminta menjadi saksi, sambil digamit istrinya agar tidak mencocokkan tamu undangan dengan kursi. Usai akad, peluitnya tertiup angin. Burung-burung di pohon serent...