Postingan

Jago

Pagi itu, Jago berdiri di tengah gang dengan dada membusung. Ia yakin dirinya ahli lalu lintas karena kokoknya selalu lebih keras daripada klakson motor. “Kiri, kanan, pelan-pelan!” perintahnya kepada kucing, bebek, dan dua kambing yang antre jagung rebus. Kucing malah tiduran. Bebek berputar-putar, mengira itu lomba. Kambing kanan menabrak tong sampah, sedangkan kambing kiri menyapa semua orang sambil mengunyah daun. Jago makin semangat. Ia meniup sedotan bekas seperti peluit dan berseru, “Disiplin, saudara-saudara!” Pak RT yang lewat hampir jatuh dari sepeda karena tertawa. “Jago, petugas yang baik tidak berdiri di atas kulit pisang.” Terlambat. Kaki Jago terpeleset. Ia berputar tiga kali, sayapnya mengepak heboh, lalu mendarat tepat di atas tumpukan daun dengan gaya pahlawan. Semua hewan tepuk sayap dan kuku. Bahkan kambing yang tadi kacau ikut memberi hormat, meskipun hormatnya miring. Sejak hari itu, Jago tidak lagi mengatur gang. Ia menjadi pengatur antrean cacing di kebun: satu ...

Kena

Pak Joko sedang jalan santai di gang, bawa kantong belanja. Tiba-tiba dari atas pagar, sebuah sandal jepit melayang dan menempel di kepalanya. “Kena!” teriak suara dari balik pagar. Pak Joko kaget, sandal itu malah bergoyang-goyang seolah hidup. Dia berusaha melepaskannya, tapi sandal itu berputar seperti kipas. Tetangga yang lewat langsung berhenti, sebagian ketawa, sebagian bingung. “Ini sandal siapa?” tanya Pak Joko sambil memegang kepala. Dari balik pagar muncul anak kecil yang tertawa terbahak. “Itu sandal bapak sendiri, Pak! Tadi jatuh dari jemuran, terus angin bawa ke sini. Saya cuma teriak biar kaget.” Pak Joko menatap sandal di kepalanya, lalu menatap jemuran rumahnya yang memang di seberang. Angin sore itu memang nakal. Semua orang di gang ikut tertawa sampai perut sakit. Malamnya, Pak Joko pulang dengan sandal masih nempel di kepala, sengaja tidak dilepas. Istrinya membuka pintu, melihat pemandangan itu, lalu berkata pelan, “Kena juga kamu sama angin.” Pak Joko cuma nyengir,...

Salah

Pak Salah punya kebiasaan aneh: setiap kali disuruh belok kanan, ia belok kiri sambil tersenyum, “Maaf, saya Salah.” Suatu pagi, istrinya berkata, “Sayang, ambilkan garam di dapur.” Pak Salah mengangguk, lalu kembali membawa payung, sandal jepit, dan satu ekor kucing tetangga yang kebingungan. “Ini garam?” tanya istrinya. “Bukan,” jawab Pak Salah tenang. “Tapi saya Salah, jadi hasilnya juga salah. Lumayan lengkap.” Si kucing menguap, lalu duduk di meja seperti tamu kehormatan. Tetangga datang mengetuk pintu. “Pak, kucing saya hilang!” Pak Salah menunjuk meja. “Dia sedang rapat.” Kucing itu mengangguk pelan, seolah setuju. Istrinya tertawa sampai hampir jatuh. “Sudah, yang benar saja.” Pak Salah berpikir sejenak, lalu berjalan ke dapur. Ia kembali dengan mangkuk garam, diletakkan di depan kucing. “Silakan, Pak Kucing. Rapatnya soal masak-masakan.” Tetangga ikut tertawa. Kucingnya menjilat garam sekali, lalu bersin keras. “Nah,” kata Pak Salah bangga, “akhirnya ada yang benar: kucing itu...

Kepiting

Di pasar pagi, seekor kepiting bernama Kribo tiba-tiba mendaftar jadi petugas parkir. Alasannya sederhana: “Saya paling ahli mengatur arah. Semua orang bilang saya selalu menyamping, jadi saya cocok menjaga ketertiban.” Petugas asli tertawa, lalu meminjamkan topi kecil. Kribo berdiri di tengah jalan, mengangkat capit, dan berseru, “Silakan mundur… eh, maju… eh, menyamping dulu!” Mobil-mobil bingung. Satu motor malah berhenti di tempat, takut disuruh berputar seperti kepiting. Keributan reda ketika seorang nenek menawar, “Nak, tolong antarkan belanjaan saya, ya.” Kribo mengangguk semangat. Sayangnya, ia berjalan menyamping terus. Keranjang belanja ikut miring, tomat berguling, dan seikat kangkung melambai-lambai seperti bendera. Nenek itu tertawa sampai lupa marah. Di ujung gang, Kribo berhenti bangga. “Sampai dengan selamat, Bu. Bonusnya, belanjaan sudah diayak angin.” Nenek itu mengusap capitnya pelan. “Besok antar lagi, ya. Tapi kali ini jangan melewati tumpukan semangka.” Sejak itu,...

Kena Sambel Matanya

Di dapur, Pak Budi lagi semangat mengaduk sambal. Ia bilang, “Hari ini sambalnya harus pedas yang bikin semangat!” Sendoknya diayunkan terlalu gagah. Plup! Sebuah titik sambal terbang lurus dan mendarat tepat di matanya. “Aduh! Mataku ikut bumbu!” teriaknya sambil menari-nari. Ia berlari ke wastafel, lalu ke kipas angin, lalu kembali ke wastafel karena lupa arah. Mata kirinya berkedip seperti lampu disco, sedangkan mata kanannya tetap tenang seolah tidak mau ikut campur. Istrinya datang membawa handuk. “Sabar, Pak. Jangan digosok.” “Tidak digosok,” kata Pak Budi, “tapi mataku sendiri yang joget!” Anaknya ikut tertawa. “Papa, sekarang Papa bisa menangis pedas. Nanti kalau nonton drama, tinggal ingat sambal.” Setelah dibilas pelan-pelan, matanya mulai reda. Pak Budi duduk di kursi, megap-megap, lalu menatap mangkuk sambal dengan penuh hormat. “Mulai sekarang,” katanya khidmat, “sambal dan mata harus jaga jarak. Kita bertetangga, bukan saudara kandung.” Istrinya mengangguk. “Setuju. Nanti...

Kejedot Tiang

Pak Budi sedang buru-buru ke warung, sambil menghitung langkah biar kelihatan penting. “Satu, dua, tiga… tiang tidak ada di rute saya,” gumamnya percaya diri. Ternyata tiang listrik di depan itu memang tidak ikut rapat perencanaan. Dung! Dahi Pak Budi ketemu tiang dengan suara yang cukup mengesankan untuk didengar tiga rumah sebelah. “Astagfirullah… tiang, kita tidak ada janji!” katanya sambil mundur, lalu mundur lagi, lalu—dung—ketemu tiang yang sama dari arah lain. Entah bagaimana, tiang itu terasa seperti punya kemampuan memanggil orang yang sedang sok ahli navigasi. Tetangga yang lewat langsung berhenti. “Pak, tiangnya diam. Bapak yang muter-muter.” Pak Budi mengangguk pelan, seolah baru menerima ilmu. Ia menepuk tiang dengan sopan. “Maaf, ya. Salah saya. Mulai hari ini saya lihat ke depan, bukan ke cita-cita belanja yang belum kebeli.” Tiang, tentu saja, tidak menjawab. Tapi Pak Budi tetap memberi hormat kecil, lalu berjalan pelan sambil memegang dahi. Di warung, ia memesan es teh...

Kutek Basah

Di warung kopi Pak Dul, Rina baru saja mengecat kuku dengan kutek merah. “Jangan disentuh, masih basah!” katanya, meniup jarinya seperti meniup sup panas. Sayangnya, kucing warung, si Belang, mengira jarinya adalah sosis mini. Belang melompat. Rina panik, mengibaskan tangan. Kuteknya terbang… lalu mendarat sempurna di kumis Pak Dul. “Wah, kumis saya jadi modern,” kata Pak Dul, malah tersenyum. Belang tidak menyerah. Ia mengejar tangan Rina keliling meja. Gelas kopi terguling, kue singkong ikut menggelinding, dan kutek basah itu meninggalkan titik-titik merah di serbet, di sendok, bahkan di dahi Rina sendiri. “Berhenti, Belang! Ini bukan mainan!” teriak Rina. Pelanggan lain malah bertepuk tangan, mengira itu pertunjukan sulap. Pak Dul mengangkat kucing itu dengan tenang. “Sudah, sudah. Kumis saya cukup satu warna.” Akhirnya Belang duduk manis, kumisnya ikut merah sebelah. Rina menatap kukunya yang kini belang-belang, lalu tertawa. “Besok saya cat kuku di rumah saja,” katanya. Pak Dul me...