Kapan Kemarinya
Rara sudah tiga kali mengecek jam di layar ponsel. Hujan deras menggedor jendela apartemen lantai tujuh belas, dan pesan terakhir dari Dimas masih sama: *Besok pagi, sayang. Kangen.* Ia membalas singkat, *Kapan kemarinya?* lalu melempar ponsel ke sofa. Tubuhnya panas bukan karena AC yang terlalu dingin. Sebulan. Sebulan tanpa sentuhan, tanpa napas di leher, tanpa cara Dimas menekan pinggulnya sampai ia tidak bisa berpikir. Ia hanya memakai kaus longgar Dimas dan celana dalam katun tipis. Rambut basah habis mandi masih menempel di bahu. Bel berbunyi. Rara kaku. Tidak ada tamu yang dijadwalkan. Ia melongok lubang intip—dan napasnya putus. Dimas. Jas hujan basah, koper kecil di kaki, senyum yang langsung membuat perutnya mengencang. Ia membuka pintu. Belum sempat bicara, Dimas sudah masuk, menutup pintu dengan kaki, dan menariknya. Mulut mereka bertemu keras. Hujan masih menetes dari rambut Dimas ke leher Rara. Lidahnya masuk, menuntut, dan Rara mengerang pelan ke dalam ciuman itu, jari-j...