Postingan

Apa Apaan Sih Kok Maunya

Di gang Kampung Melati, rapat RT mendadak ricuh. Bukan karena iuran, melainkan karena kucing oren Bu Siti duduk di kursi ketua sambil memakai dasi dari tali sepatu. “Apa apaan sih kok maunya?” tanya Pak RT, keningnya berkerut. Bu Siti mengangkat bahu. “Dia bilang capek mengeong sendirian. Maunya jadi ketua RT, tapi cuma satu siang.” Warga saling pandang. Kucing itu mendorong buku tamu dengan cakarnya. Di situ tertulis: tidur siang wajib, ikan gratis, dan siapa yang membangunkan orang yang sedang bermimpi harus minta maaf dengan senyum. “Apa apaan sih kok maunya?” ulang Pak Dedi. “Kucing kan tidak bisa tanda tangan!” Voting pun dilakukan dengan kacang tanah. Hasilnya seri, sampai kucing bersin dan satu kacang jatuh ke mangkuk “setuju”. Sah. Sore itu gang menjadi sunyi yang aneh. Kucing tertidur di meja rapat, dasinya miring, sementara warga pulang terkikik. Besoknya Pak RT kembali menjabat, tapi dasi tali sepatu itu ia simpan di laci. Siapa tahu suatu hari ia juga ingin libur dengan car...

Aku Taqut Aku Yang Meninggal Qarena Lapar

Aku terbangun tengah malam dengan perut yang berbunyi seperti motor mogok. “Ini dia,” bisikku dramatis. “Aku akan meninggal karena lapar.” Jam baru menunjukkan pukul sebelas. Makan malam baru dua jam lalu. Tapi otakku sudah menulis surat wasiat: “Jika aku pergi, wariskan nasi goreng-ku pada tetangga yang paling sopan.” Aku merangkak ke dapur sambil menangis kecil. Kulkas kosong, kecuali sebutir telur dan sehelai daun bawang yang terlihat putus asa. Aku menatap telur itu seperti pahlawan terakhir. “Jangan tinggalkan aku,” kataku pada telur. Tiba-tiba ibu muncul, rambut berantakan, memegang sendok. “Kenapa kau bicara dengan telur?” “Aku sekarat, Bu.” Ibu menghela napas, lalu menyodorkan sepiring sisa pempek yang ternyata disimpan di rak atas. Aku makan tiga suap, lalu langsung hidup kembali seperti karakter game yang dapat nyawa tambahan. “Jadi,” kata ibu, “surat wasiatnya batal?” Aku mengangguk khidmat. “Batal. Tapi tolong jangan simpan pempek terlalu tinggi. Nanti aku meninggal karena ...

Laparnya Dicakar Hewan Qucing

Pada suatu siang, perut Ali berbunyi “krucuk-krucuk” sampai tetangga mengira ada mesin cuci rusak. Qucing, kucing peliharaannya, terbangun dan yakin ada tikus nakal bersembunyi di dalam perut itu. Qucing langsung meloncat ke pangkuan Ali lalu mencakar perutnya pelan-pelan, seolah sedang memanggil tikus keluar. Ali tertawa tergelitik sampai hampir jatuh dari kursi. “Itu bukan tikus, Qucing! Itu lapar!” Qucing tidak peduli. Cakarannya makin rajin. Entah kenapa, rasa lapar Ali ikut geli, lalu meloncat keluar dari perutnya dalam wujud bayangan kecil yang malu-malu. Bayangan itu berlari ke dapur, membuka kulkas, dan mengambil sepotong roti dengan sopan. Ali dan Qucing mengikuti. Mereka bertiga duduk di lantai. Lapar itu mengunyah roti sambil berkata, “Terima kasih sudah dicakar. Sekarang aku kenyang dan tidak mau mengganggu lagi.” Qucing mengangguk puas, lalu tertidur di atas roti sisa. Ali hanya geleng-geleng kepala, tapi perutnya sudah tenang. Sejak itu, setiap kali lapar datang, Qucing s...

Kapan Kemarinya

Rara sudah tiga kali mengecek jam di layar ponsel. Hujan deras menggedor jendela apartemen lantai tujuh belas, dan pesan terakhir dari Dimas masih sama: *Besok pagi, sayang. Kangen.* Ia membalas singkat, *Kapan kemarinya?* lalu melempar ponsel ke sofa. Tubuhnya panas bukan karena AC yang terlalu dingin. Sebulan. Sebulan tanpa sentuhan, tanpa napas di leher, tanpa cara Dimas menekan pinggulnya sampai ia tidak bisa berpikir. Ia hanya memakai kaus longgar Dimas dan celana dalam katun tipis. Rambut basah habis mandi masih menempel di bahu. Bel berbunyi. Rara kaku. Tidak ada tamu yang dijadwalkan. Ia melongok lubang intip—dan napasnya putus. Dimas. Jas hujan basah, koper kecil di kaki, senyum yang langsung membuat perutnya mengencang. Ia membuka pintu. Belum sempat bicara, Dimas sudah masuk, menutup pintu dengan kaki, dan menariknya. Mulut mereka bertemu keras. Hujan masih menetes dari rambut Dimas ke leher Rara. Lidahnya masuk, menuntut, dan Rara mengerang pelan ke dalam ciuman itu, jari-j...

Ramen Aku Hilank Nich

Pak Budi baru saja duduk, sendok sudah di tangan, mata berbinar menatap ramen kesukaannya. Uapnya mengepul, telur mata sapi tersenyum, dan daun bawang berbaris rapi seperti pasukan kecil. “Ini dia,” gumamnya. “Momen suci.” Ia berkedip sekali. Cuma sekali. Saat mata terbuka, mangkuknya kosong. Bersih. Mengkilap. Bahkan uapnya ikut kabur. “Ramen aku hilang, nich!” teriaknya. Ia menggeledah meja, kursi, bahkan saku celana. Tidak ada. Tiba-tiba terdengar suara slurpp kecil dari bawah meja. Pak Budi menunduk. Kucing tetangganya, si Belang, duduk tenang dengan kumis penuh minyak cabai. “Kamu?” tanya Pak Budi. Belang menggeleng. Lalu menunjuk ke arah kipas angin. Ternyata angin dari kipas terlalu semangat. Mie-mie nakal itu terbang satu per satu, mendarat rapi di atap rumah tetangga, lalu membentuk tulisan: “Maaf, kami liburan.” Pak Budi tertawa sampai perutnya keroncongan. Ia membuat ramen baru, kali ini mangkuknya diikat tali, kipas dimatikan, dan Belang diberi ikan kecil sebagai “uang tutu...

Isip Isip Joz

Isip Isip Joz sedang berjalan santai ketika topinya tiba-tiba terbang sendiri. Topi itu berputar di udara sambil bersiul, lalu mendarat tepat di kepala seekor kucing tetangga. “Eh, topiku!” seru Isip. Kucing itu menoleh pelan, lalu berjalan anggun seolah baru dilantik menjadi wali kota. Isip mengejarnya, tapi setiap kali dekat, topi itu melompat ke kepala orang lain: tukang bakso, ibu-ibu belanja, bahkan patung di taman. Akhirnya topi berhenti di atas kepala Isip lagi. Semua orang bertepuk tangan. Isip tersenyum bangga, sampai ia sadar topinya terbalik dan di dalamnya tertulis: “Milik Kucing, dipinjam sementara.” Kucing itu mengedip, lalu pergi dengan gaya pejabat. Isip hanya bisa tertawa. “Besok,” gumamnya, “saya bawa helm saja.”

Lirikan Mata Hitam Abu Abu

Di kantin sekolah, Raka terkenal karena lirikan mata hitam abu-abunya. Katanya, sekali melirik, nasi goreng bisa malu dan bumbu kecap langsung minta maaf. Suatu siang, Raka melirik ke arah meja Bu Kantin. Bukan karena sombong, hanya karena sendoknya jatuh. Tapi lirikan itu mendarat tepat pada rak bumbu. Lada terbang, garam berputar, dan kecap meloncat seperti ikut lomba lari. Nasi goreng di wajan tiba-tiba membentuk wajah terkejut. “Aduh, Mas, lirikannya jangan ke bumbu!” teriak Bu Kantin sambil memegang tutup panci seperti perisai. Raka panik. Ia mencoba melirik ke langit-langit agar suasana aman. Sayangnya, lampu ikut berkedip-kedip, seolah ikut tersipu. Teman-temannya malah bertepuk tangan. “Wah, lirikan mata hitam abu-abu level jurusan tata boga!” celetuk salah satu teman. Akhirnya Raka menunduk, menutup mata, lalu berkata pelan, “Bu, saya cuma mau minta sendok cadangan.” Bu Kantin tertawa, menyerahkan sendok, dan menaruh sepiring nasi goreng di depannya. Di atas nasi itu tertulis ...