Lilin
Di sebuah toko kelontong, ada sebatang lilin yang merasa dirinya adalah pahlawan. Namanya Lilin, dan ia sangat yakin bahwa dunia gelap hanya karena ia belum menyala.
Suatu malam, listrik padam. Lilin langsung berseru, “Ini saatnya!” Ia digesek korek, lalu menyala dengan bangga. Cahayanya kecil, tapi sikapnya besar.
“Mundur, kegelapan!” teriaknya sambil gemetar karena angin dari kipas tangan Bu Rina.
Sayangnya, Lilin terlalu semangat. Ia membungkuk ke kiri, lalu ke kanan, seolah sedang menari. Lilin di sebelahnya berbisik, “Tenang, jangan drama.”
Terlambat. Lilin menari terlalu kencang, lalu jatuh ke mangkuk kuah bakso yang masih hangat. Api padam seketika. Semua orang terdiam.
Bu Rina mengangkatnya pelan. “Ya ampun, pahlawannya mabuk kuah.”
Lilin, basah dan malu, hanya bisa bergumam, “Setidaknya… aku sudah mencoba.”
Besoknya, ia dikeringkan dan dijadikan hiasan di atas kulkas. Setiap kali listrik padam, ia tetap diam, tapi diam-diam tersenyum. Katanya, pensiun dini juga mulia—apalagi kalau bau baksonya masih tercium samar.