Korek Api

Di rumah Pak Dodi ada korek api yang mudah tersinggung. Namanya Kang Klik. Ia tidak mau menyala kalau merasa tidak dihormati.

Pagi itu kompor perlu dinyalakan, tetapi Kang Klik hanya berbunyi, “Klik. Tidak mood.”

“Gasmu habis?” tanya Pak Dodi.

“Bukan,” jawab Kang Klik. “Semalam Bapak menaruh saya di samping bawang. Baunya menusuk. Saya ini alat terhormat, bukan teman bumbu dapur.”

Pak Dodi menahan tawa, lalu meminta maaf. Ia meletakkan Kang Klik di atas serbet bersih dan berkata, “Silakan, Yang Mulia.”

Kang Klik batuk kecil, lalu mengeluarkan api mungil berbentuk senyum. Kompor menyala, telur pun matang. Namun saat api hendak dipadamkan, Kang Klik berseru, “Tunggu! Saya baru mulai penampilan. Minta tepuk tangan dulu.”

Satu rumah pun bertepuk tangan di dapur. Kang Klik puas, lalu masuk ke kotaknya sambil bermimpi menjadi lampu panggung. Keesokan harinya ia bangun dan berkata pelan, “Hari ini saya cuti. Silakan pakai kompor listrik. Dan lain kali, jangan dekati saya dengan bawang, kecuali bawang itu sudah minta maaf juga.”