Tanpa Sadar Buka Celana
Malam itu ruang tamu mereka hanya diterangi lampu redup dan suara televisi yang pelan. Rina, dua puluh sembilan tahun, tubuhnya hangat dan sedikit lembap setelah mandi, bersandar di sofa dengan kepala terkulai di paha suaminya. Dimas, tiga puluh dua, masih memakai celana training longgar. Ia sendiri juga lelah, satu tangan mengelus rambut Rina sambil setengah memperhatikan layar.
Rina mengantuk berat. Napasnya pelan, bibirnya sedikit terbuka. Tangannya yang lemas bergerak tanpa arah, jari-jari meraba kain celana Dimas seperti sedang mencari sesuatu dalam mimpi. Ia tidak sadar jarinya sudah menemukan tali celana, menariknya longgar, lalu menyelip ke dalam. Kulit hangat Dimas terasa di ujung jarinya. Kontol suaminya, yang tadinya lunak, mulai bereaksi pelan di bawah sentuhan tidak sadar itu.
Dimas menahan napas. Ia melihat tangan istrinya bergerak sendiri, membuka celana trainingnya sampai pinggang turun sedikit. Boxer ikut tersingkap. Kontolnya yang mulai tegang keluar, batang tebal hangat menyentuh telapak tangan Rina yang masih tertidur setengah. Rina bergumam kecil, tidak bangun. Jarinya melingkar pelan, mengusap dari pangkal ke ujung tanpa ritme, hanya gerakan malas orang yang sedang mimpi.
“Rin…” Dimas berbisik, suara serak. Tidak ada jawaban. Hanya napas berat dan tangan yang terus bergerak. Cairan bening sudah mulai keluar dari lubang kontolnya, membasahi jari Rina. Ia tidak bisa menahan. Pinggulnya terangkat sedikit, mendorong lebih dalam ke genggaman istrinya.
Rina akhirnya terbangun setengah, mata masih sayu. Ia melihat tangannya sendiri sudah memegang kontol Dimas yang tegak penuh, kepala kemerahan basah oleh precum. Alih-alih menarik tangan, ia malah mengerang pelan, masih dalam keadaan mengantuk. Mulutnya mendekat tanpa banyak pikir. Lidahnya menjilat ujung itu, rasa asin langsung memenuhi mulutnya. Ia mengisap pelan, bibir basah melingkari kepala kontol, lidah berputar di bawahnya sementara tangannya masih mengocok batang yang licin.
Dimas mendesis. “Kamu beneran nggak sadar tadi?”
Rina hanya mendengus, mulutnya penuh. Ia mengangguk kecil tanpa melepas. Isapannya makin dalam, air liur menetes ke bola-bola Dimas, membasahi sofa. Suara basah kecipak kecil terdengar setiap kali ia mengangkat kepala lalu menelan lagi. Kontol Dimas berdenyut di dalam mulutnya, urat-uratnya terasa di lidah.
Ia akhirnya melepas dengan benang liur masih menghubungkan bibirnya ke kepala kontol. Celananya sendiri sudah ia turunkan sampai paha, memeknya yang mulai basah terbuka, rambut halus menempel karena cairan. Tanpa banyak kata ia naik ke pangkuan Dimas, menghadapnya. Tangan Dimas otomatis meremas pantatnya yang kenyal.
“Masukin,” Rina bisik, suara masih serak kantuk tapi napasnya sudah panas. Ia mengarahkan sendiri kontol suaminya ke lubang memeknya yang licin. Kepala tebal itu mendorong masuk perlahan, meregangkan dinding dalamnya yang hangat dan basah. Rina mengerang panjang, dahi menempel di bahu Dimas, pinggulnya turun sampai pangkal tertelan penuh.
Mereka bergerak lambat dulu. Rina mengangkat pinggul lalu turun lagi, memeknya mencengkeram erat, cairan mereka bercampur dan menetes ke bola Dimas. Setiap turun, klitorisnya bergesekan dengan perut suaminya. Dimas memegang pinggangnya, membantu ritme, jempolnya sesekali mengusap puting Rina yang sudah keras di balik kaos tipis.
“Lebih kencang,” Rina minta, mata setengah terpejam. Dimas according. Ia mendorong dari bawah, kontolnya menghantam dalam, suara kulit bertemu kulit jadi basah dan berirama. Rina mulai bergerak sendiri lebih liar, memutar pinggul, memeknya menyedot setiap hentakan. Cairan putih mulai berbusa di pangkal kontol Dimas, menetes ke sofa.
Dimas membalik posisi mereka. Rina telentang, kaki diangkat ke bahu. Ia menusuk dalam-dalam, tempo cepat. Rina berteriak pelan, kuku mencengkeram lengan suaminya. “Di situ… terus… jangan berhenti.” Memeknya berkedut hebat, dinding dalam menjepit kontol Dimas seperti tidak mau lepas. Dimas merasakan dirinya mau keluar. Ia menarik hampir keluar lalu menusuk lagi sekuat tenaga, menumpahkan sperma panas jauh di dalam. Rina ikut klimaks, tubuhnya melengkung, cairan mereka tumpah keluar bersamaan, membasahi paha dan sofa.
Mereka terengah, masih menyatu. Rina tertawa kecil, napasnya belum teratur. “Tadi beneran tangan gue yang buka celana kamu tanpa sadar?”
Dimas mencium keningnya, masih di dalam. “Iya. Dan kamu lanjut nyepong sambil ngantuk. Gila.”
Rina menggigit bibir, memeknya masih sesekali berdenyut di sekitar kontol yang mulai lunak. “Besok malem… jangan pakai celana. Biar gue bisa ‘nggak sadar’ lagi.”
Mereka tertawa pelan, tubuh masih lengket oleh keringat dan cairan, tidak buru-buru berpisah. Malam itu sofa mereka jadi saksi bagaimana kantuk bisa berubah jadi sesi yang panjang, basah, dan tidak mereka rencanakan—tapi sama-sama mereka nikmati sampai pagi.