Tampol

Pak Badrun sedang khusyuk minum teh, ketika seekor lalat mendarat di ujung hidungnya. Ia mengangkat tangan, siap menampol.

“Awas, lalat!” teriaknya.

Tampolan pertama meleset. Yang kena justru bantal sofa. Bantal itu terbang, menimpa kucing, dan kucing meloncat ke meja. Teko teh bergoyang, lalu berdiri sendiri seolah ikut panik.

Lalat masih santai. Pak Badrun menampol lagi. Kali ini sasarannya kipas angin. Kipas berputar lebih kencang, meniup peci Pak Badrun sampai melayang ke halaman. Tetangga mengira ada lomba layang-layang dadakan.

“Sabar, Pak,” kata istrinya sambil menahan tawa.

Tampolan ketiga lebih hebat. Tangannya kena pintu lemari. Lemari terbuka, dan keluarlah segudang kaos kaki yang sudah lama hilang, berhamburan seperti confetti. Lalatnya malah terbang keluar lewat jendela, seolah pamit dengan sopan.

Pak Badrun terdiam, lalu tertawa. “Ya sudah. Lalatnya pergi, kaos kaki ketemu, rumah jadi bersih. Tampolanku ternyata amal jariyah.”

Istrinya mengangguk. “Besok jangan ditampol lagi, Pak. Disapu saja.”