Si Kucing yang Ingin Jadi Presiden
Oke, ini cerita konyol buat kamu. Siap-siap nggak masuk akal ya.
---
**Si Kucing yang Ingin Jadi Presiden**
Di sebuah kosan yang berantakan, hiduplah seekor kucing oranye bernama Mochi. Mochi ini bukan kucing biasa. Dia suka nonton berita politik sambil makan Whiskas.
Suatu malam, setelah melihat debat calon presiden, Mochi duduk tegak, menatap cermin, lalu berkata dalam hati (karena dia kucing):
“Aku juga bisa. Aku bahkan lebih jujur. Aku nggak pernah janji bangun infrastruktur. Aku cuma janji bangun istana dari kardus.”
Keesokan harinya, Mochi mulai kampanye.
Dia berdiri di depan warung, mengeong keras, lalu mendorong kaleng makanan kucing ke depan orang-orang sambil menatap penuh harap. Orang-orang kira dia minta makan. Padahal dia lagi bagi-bagi “bantuan sosial”.
Dia juga bikin poster. Isinya foto dirinya sedang tidur di atas laptop, dengan tulisan:
**“MOCHI 2029. TIDUR DULU, NEGARA NANTI.”**
Kampanye paling gencarnya adalah di grup WhatsApp kosan. Dia ketik sendiri (dengan cara menginjak keyboard) pesan:
“Warga kos yang terhormat. Kalau saya jadi presiden, WiFi nggak akan putus. Karena saya akan duduk di atas router. Permanen.”
Pemilik kos hampir percaya, sampai Mochi kelepasan pipis di atas printer saat lagi “mencetak surat suara”.
Pada hari pemungutan suara (yang cuma diikuti 4 orang kosan dan 1 tukang bakso), Mochi menang telak. 5-0. Karena semua orang malas dan Mochi imut.
Pelantikannya diadakan di dapur. Mahkotanya dari aluminium foil. Pidato pertamanya:
“Meeeoooww. (artinya: mulai hari ini, semua ikan kaleng jadi aset negara. Yang nyolong, saya cakar).”
Tiga hari kemudian, Mochi mundur dari jabatan. Alasannya: terlalu capek. Dia lebih suka jadi rakyat biasa yang tidur 18 jam sehari dan dibelikan royal canin.
Negara (kosan itu) kembali damai. WiFi tetap putus. Tapi setidaknya nggak ada lagi kucing yang ngaku-ngaku presiden.
---
Gimana? Konyol cukup nggak? Kalau mau yang lebih parah, bilang aja. Aku bisa bikin versi kambingnya jadi menteri keuangan.