Semur Jengkol
Dinda berdiri di depan kompor, rambutnya diikat asal, kaos tipisnya sudah basah keringat di bagian punggung. Aroma semur jengkol memenuhi dapur—kental, menyengat, manis-gurih dari kecap dan gula merah yang mengental. Jengkol yang sudah direbus lama itu pecah di dalam panci, mengeluarkan bau khas yang biasanya bikin orang minggir, tapi malam ini justru bikin napas Dinda lebih pendek.
Raka masuk tanpa suara. Tangannya langsung melingkar di pinggang istrinya dari belakang. “Masih belum mateng?” suaranya rendah, bibirnya menyentuh tengkuk Dinda yang lembap. Dinda menggeleng kecil, sendok pengaduk masih di tangan. Raka tidak menunggu. Ia menggeser tali daster Dinda sampai bahu telanjang, lalu menurunkan kain itu sampai ke pinggul. Payudara Dinda yang berat jatuh bebas, putingnya sudah menegang karena udara dapur yang panas dan sentuhan kasar jari Raka.
“Bau jengkolnya nempel di kulit kamu,” Raka bergumam sambil mencium bahu Dinda, lidahnya menjilat garis keringat. Tangannya meremas payudara itu, ibu jari memutar puting sampai Dinda mendesah dan pinggulnya terdorong ke belakang, menekan selangkangan Raka yang sudah keras di balik celana. “Enak… terusin.”
Raka menurunkan tangan, menyusup ke dalam daster yang sudah longgar. Jari-jarinya menemukan memek Dinda sudah licin, cairan bening menetes ke paha. Ia memasukkan dua jari sekaligus, mengaduk pelan seperti Dinda tadi mengaduk semur. Bunyi basah terdengar jelas di antara desisan panci. Dinda menjatuhkan sendok, kedua tangannya mencengkeram tepi kompor. “Raka… panci…”
“Biar mendidih,” jawab Raka. Ia berlutut, menarik daster sampai ke lantai, lalu membuka paha Dinda lebar-lebar. Lidahnya langsung menyapu belahan memek yang basah, menjilat dari lubang sampai ke klitoris yang bengkak. Bau jengkol dan keringat bercampur dengan rasa asin cairan Dinda. Raka mengisap kuat, lidahnya menusuk masuk, membuat Dinda bergetar dan menjerit pelan. Cairan semakin banyak, menetes ke dagu Raka.
Dinda tidak tahan. Ia memutar badan, mendorong Raka sampai punggungnya menempel kulkas. Tangannya buru-buru membuka resleting celana, mengeluarkan kontol yang sudah tegang dan berurat. Ia meludahi batang itu, lalu memasukkannya ke mulut, menghisap dalam sampai kepala kontol menyentuh tenggorokan. Raka mengerang, tangannya meremas rambut Dinda, mendorong pinggul pelan. Air liur Dinda mengalir ke bola zakar, basah dan panas.
Mereka pindah ke meja makan yang belum dibereskan. Raka mengangkat Dinda, mendudukkannya di tepi meja, lalu mendorong masuk. Kontolnya melesak penuh ke dalam memek yang sempit dan licin. Dinda memeluk leher Raka, kakinya melingkar di pinggang, setiap hentakan membuat meja berderit. “Lebih dalam… ngentot aku yang kenceng.” Raka menurut, tempo semakin cepat, bola zakar menampar kulit basah. Suara daging bertemu daging bercampur dengan gelegak semur di kompor.
Dinda meraih pinggir panci—hampir, tapi tidak sampai tumpah—lalu mencelupkan jari ke saus kental yang masih panas. Ia mengoleskannya ke putingnya sendiri, lalu menarik kepala Raka agar menjilat. Rasa manis-gurih dan sedikit pahit jengkol menempel di lidah Raka saat ia mengisap puting yang berlumur semur. Dinda merintih lebih keras, dinding memeknya meremas kontol Raka berulang-ulang.
“Aku mau keluar,” Raka mendesah, pinggulnya mulai tidak teratur. Dinda mengangguk, kukunya mencakar punggung Raka. “Keluarin di dalam… penuhi memek aku.” Beberapa hentakan terakhir yang dalam dan kasar, lalu Raka menegang, sperma panas menyembur memenuhi rahim Dinda. Dinda ikut klimaks, tubuhnya melengkung, cairan mereka bercampur dan meleleh ke meja.
Mereka terengah, masih menyatu. Di kompor, semur jengkol terus mendidih pelan, aromanya kini bercampur bau seks yang lebih menyengat. Dinda tersenyum lelah, jari-jarinya masih basah saus dan keringat. “Sekarang… makan dulu, atau lanjut satu ronde lagi sebelum nasinya dingin?”