Ramen Aku Hilank Nich

Pak Budi baru saja duduk, sendok sudah di tangan, mata berbinar menatap ramen kesukaannya. Uapnya mengepul, telur mata sapi tersenyum, dan daun bawang berbaris rapi seperti pasukan kecil.

“Ini dia,” gumamnya. “Momen suci.”

Ia berkedip sekali. Cuma sekali.

Saat mata terbuka, mangkuknya kosong. Bersih. Mengkilap. Bahkan uapnya ikut kabur.

“Ramen aku hilang, nich!” teriaknya.

Ia menggeledah meja, kursi, bahkan saku celana. Tidak ada. Tiba-tiba terdengar suara slurpp kecil dari bawah meja. Pak Budi menunduk. Kucing tetangganya, si Belang, duduk tenang dengan kumis penuh minyak cabai.

“Kamu?” tanya Pak Budi.

Belang menggeleng. Lalu menunjuk ke arah kipas angin.

Ternyata angin dari kipas terlalu semangat. Mie-mie nakal itu terbang satu per satu, mendarat rapi di atap rumah tetangga, lalu membentuk tulisan: “Maaf, kami liburan.”

Pak Budi tertawa sampai perutnya keroncongan. Ia membuat ramen baru, kali ini mangkuknya diikat tali, kipas dimatikan, dan Belang diberi ikan kecil sebagai “uang tutup mulut.”

Mereka makan berdampingan. Ramen tidak hilang lagi. Yang hilang cuma keseriusan Pak Budi—dan itu, katanya, lebih enak.