Raka & Dinda Berhubungan Sex Lagi
Malam itu udara di kamar terasa pengap, AC menyala pelan tapi keringat tetap menetes di leher Raka. Ia baru pulang dari kantor, kemeja sudah setengah terbuka, dan langsung mendapati Dinda duduk di tepi kasur hanya memakai kaus longgar miliknya. Kaus itu terlalu besar, jatuh sampai paha, dan dari sudut pandang Raka terlihat jelas bahwa di bawahnya tidak ada apa-apa.
Dinda menatapnya tanpa bicara. Matanya setengah sayu, bibir sedikit terbuka. Raka menutup pintu, mengunci, lalu berjalan mendekat. Tangannya langsung meraih pinggul Dinda, mengangkat kaus itu sampai ke pinggang. Memek Dinda sudah basah, mengilap di bawah lampu redup, bulu halusnya menempel karena cairan yang terus merembes.
“Dari tadi nungguin gue?” suara Raka rendah.
Dinda mengangguk kecil. “Udah nggak tahan. Pegang aja… dalam-dalam.”
Raka berlutut di antara paha Dinda. Ia membusungkan hidungnya tepat di belahan itu, menghirup bau amis-manis yang sudahfamiliar. Lidahnya menjulur, menjilat dari bawah ke atas, pelan dulu, lalu lebih lebar. Dinda mendesah, tangannya mencengkeram rambut Raka. Raka membuka bibir memek itu dengan dua jari, lidahnya masuk lebih dalam, mengocok klitoris yang sudah bengkak. Cairan Dinda menetes ke dagu Raka, hangat dan licin.
“Ahh… jangan cuma dijilat. Masukin jarinya.”
Dua jari Raka langsung meluncur masuk. Memek Dinda menelan sampai buku jari, dinding dalamnya menghisap, basah dan panas. Raka menggerakkan jari itu keluar-masuk, menekuk sedikit mencari titik yang biasa bikin Dinda gemetar. Dinda mengangkat pinggul, memeknya terus mengeluarkan lendir bening yang membasahi telapak tangan Raka.
Raka berdiri, membuka celana. Kontolnya sudah tegang penuh, urat-uratnya menonjol, kepala kemaluannya mengilap karena precum. Ia menggesekkan batang itu di sepanjang belahan memek Dinda, mengoleskan cairan mereka berdua. Dinda merengek, kakinya membuka lebih lebar.
“Masukin. Sekarang. Dalam-dalam.”
Raka memegang pangkal kontolnya, menekan kepala itu ke lubang yang sudah menganga. Satu hentakan pelan, lalu ia dorong sampai mentok. Dinda menjerit pelan, punggungnya melengkung. Memeknya terasa sesak dan panas, menjepit kontol Raka erat-erat. Raka diam sejenak, membiarkan Dinda menyesuaikan, lalu mulai bergerak. Setiap tarikan keluar, cairan putih bening ikut tertarik, membentuk benang tipis sebelum hancur saat ia tusuk kembali.
Tempo semakin cepat. Suara basah “plok-plok” memenuhi kamar, bercampur desahan Dinda yang semakin tinggi. Raka memegang kedua paha Dinda, mengangkatnya sedikit agar bisa menusuk lebih dalam. Kepala kontolnya berkali-kali menghantam mulut rahim, bikin Dinda menggelinjang.
“Kerasa nggak? Sampai sini,” Raka menekan perut bawah Dinda dengan telapak tangan sambil terus menghentak. “Memek lo nenelin kontol gue.”
“Iya… ahh, lebih kenceng. Jangan berhenti.”
Raka membalik posisi. Dinda dibaringkan telentang, kaki diangkat ke bahu Raka. Ia memasukkan kembali, kali ini lebih brutal. Setiap hentakan membuat payudara Dinda bergoyang di balik kaus yang sudah kusut. Raka menarik kaus itu ke atas, mulutnya langsung menghisap puting yang sudah mengeras. Gigi-giginya menggigit pelan sementara pinggulnya terus bekerja.
Dinda meremas sprei. “Gue mau crot… Raka, gue mau—”
“Bareng. Keluarin semua.”
Raka mempercepat, kontolnya licin total oleh campuran cairan mereka. Ia merasakan memek Dinda mulai berdenyut hebat, menjepit-jepit. Dinda mencapai puncak lebih dulu, tubuhnya menegang, cairan deras menyembur di sekitar batang Raka, membasahi selangkangan dan seprai. Raka tidak berhenti. Beberapa hentakan lagi, ia menarik keluar sebentar hanya untuk melihat memek Dinda yang berkedut dan menganga, lalu ia masukkan kembali sampai pangkal dan menumpahkan sperma panas di dalam.
Semburan demi semburan terasa jelas. Dinda merintih, merasakan kehangatan itu mengisi dirinya. Raka tetap di dalam, menggerakkan pinggul pelan, memastikan setiap tetes masuk dalam-dalam. Ketika ia akhirnya menarik keluar, sperma putih kental langsung mengalir keluar dari memek Dinda, bercampur dengan cairan bening miliknya sendiri, menetes ke seprai.
Mereka berdua terengah. Raka menunduk, menjilat sisa-sisa di paha Dinda, lalu naik dan mencium bibirnya. Dinda membalas, lidah mereka bertukar rasa asin dan amis.
“Masih ada,” bisik Dinda, tangannya meraih kontol Raka yang masih setengah tegang. “Masukin lagi. Gue mau ngerasain darah lo… dalam-dalam, sampai besok pagi masih ngalir.”
Raka tersenyum tipis, sudah siap untuk ronde berikutnya. Malam masih panjang, dan tubuh mereka belum puas.