Punten
Bang Odeng mau beli gorengan. Sayangnya, ia terlalu sopan.
“Punten,” katanya pada pagar.
“Punten,” pada kucing yang sedang tidur.
“Punten,” pada angin yang lewat.
Bahkan bayangannya sendiri disapa, “Punten, duluan ya.”
Di jalan, ia berhenti lagi. Ada semut menyeberang.
“Punten, semut. Pelan-pelan.”
Sampai di warung, gorengan sudah habis. Bang Odeng menunduk.
“Punten, Bu. Saya telat karena banyak yang harus saya permisi.”
Ibu warung tertawa. “Punten juga, Bang. Gorengannya habis dimakan orang yang tidak bilang punten sama sekali.”
Perut Bang Odeng berbunyi keras.
Ia menepuk perutnya pelan.
“Punten, perut. Sabar.”
Perutnya seolah menjawab dengan bunyi lebih keras. Bang Odeng mengangguk.
“Baik. Kita pulang. Tapi punten dulu pada jalan.”
Di rumah, ia membuka kulkas. Kosong.
“Punten,” katanya pada kulkas.
Kulkas tidak menjawab. Tapi es batu di dalamnya berbunyi “krek”.
Bang Odeng tersenyum.
“Nah, itu. Setidaknya es batu sopan.”
Lalu ia duduk, minum air putih, dan berkata pada gelas,
“Punten, hari ini kita makan nanti saja. Yang penting adabnya utuh.”