Preman

Di gang Kampung Melati, Bang Juki terkenal sebagai preman paling galak—setidaknya menurut papan nama yang ia buat sendiri. Setiap sore ia berdiri di depan warung Bu Minah dan berteriak, “Bayar uang keamanan!”

Bu Minah mengangguk tenang. “Berapa, Bang?”

“Satu piring nasi uduk. Bumbunya harus pas, sambalnya jangan pelit.”

Suatu hari, seorang pengantar paket tersesat. Juki menghadang dengan gaya heroik. “Wilayahku! Serahkan sesuatu!”

Pengantar itu bingung, lalu memberikan permen karet rasa durian. Juki mengunyahnya gagah, sampai permen lengket di kumis palsu warisannya. Kumis itu copot, melayang, dan mendarat tepat di panci soto Bu Minah.

“Kumis leluhurku!” teriak Juki. Ia menyambar sendok, terpeleset, dan tercebur. Keluar dari panci, ia basah kuyup, berbau kuah, dan disambut tepuk tangan anak-anak yang menjulukinya Preman Soto Terbang.

Sejak itu Juki berhenti memalak. Ia malah membantu mengaduk soto, meski kumis barunya selalu ikut mengapung. Pelanggan pulang kenyang, tertawa, dan gang itu jadi tempat wisata paling aneh: soto gratis kumis, preman gratis malu.