Pindak Pinarak

Di Kampung Cikarang Hilir, Pak Bodin dijuluki Tukang Kawin. Bukan karena ia sering menikah, melainkan karena hobinya mencocokkan siapa saja yang berdiri berdekatan. Dua orang antre bakso? “Cocok!” Dua tetangga yang sama-sama lupa payung? “Jodoh!”

Suatu pagi, ia melihat dua sandal jepit tertukar di depan masjid. Tanpa pikir panjang, Pak Bodin meniup peluit dan mengajak warga bersaksi. “Sandal kiri dan sandal kanan, saya satukan kembali!” teriaknya khidmat.

Warga tertawa sampai perut keram. Pemilik sandal, Mas Juki dan Mbak Lala, saling pandang. Ternyata mereka sudah tiga tahun saling suka, tetapi selalu malu menyapa. Karena ulah sandal yang “dijodohkan” Pak Bodin, keduanya akhirnya berani bicara.

Seminggu kemudian, bukan sandalnya yang menikah, melainkan Mas Juki dan Mbak Lala, dalam acara yang sah dan meriah. Pak Bodin hanya diminta menjadi saksi, sambil digamit istrinya agar tidak mencocokkan tamu undangan dengan kursi.

Usai akad, peluitnya tertiup angin. Burung-burung di pohon serentak terbang berpasangan. Pak Bodin berseru, “Lihat! Burung saja ikut antre!” Istrinya menepuk pundaknya. “Sudah, Bodin. Manusianya sudah bahagia. Burungnya biar saja urus sendiri.”