Penakut Bilang

Pak Penakut Bilang tinggal di ujung gang yang paling ramai. Setiap pagi ia mengumumkan ketakutannya dengan suara kecil, tapi sangat yakin.

“Aku takut angin,” katanya, lalu memakai tiga jaket dan panci sebagai topi. Angin kebingungan, lalu berbelok ke pohon mangga. Mangganya jatuh, dan Penakut menganggap itu tanda angin sedang minta maaf.

Siangnya ia bilang, “Aku takut bayangan sendiri.” Ia berjalan sambil membawa cermin menghadap ke belakang. Bayangannya malah melambaikan tangan lebih dulu. Penakut tersenyum, tersandung sandal, dan sandal itu seolah ikut tertawa.

Sore hari, seekor kucing oranye duduk di pagar. “Aku takut kucing,” bisiknya. Kucing itu mengeong sopan, seakan berkata, “Saya juga takut manusia bertopi panci.” Keduanya saling menunduk, lalu berbagi sepotong roti tanpa saling menatap lama-lama.

Malamnya listrik padam. Penakut bilang kepada gelap, “Tenang, aku di sini.” Ia kaget mendengar suaranya sendiri memantul dari kendi kosong. Alih-alih lari, ia tertawa sampai lampu hidup kembali, seolah ikut geli.

Esoknya seluruh gang meniru gayanya: jaket berlapis dan topi panci. Angin minggir, kucing memberi salam, dan Penakut Bilang hanya takut satu hal—kehabisan roti untuk dibagi.