Pada Malam Hari Seksnya Seru ah ah ah

Malam itu hujan deras mengguyur atap, bunyinya rapat dan berat, seolah menutup dunia di luar. Di dalam kamar, lampu tidur hanya menyisakan cahaya kuning redup. Aroma kulit yang baru mandi masih nempel di udara, campur sama wangi lotion vanila yang dia oles tipis di leher dan paha.

Dia berbaring telentang, kaos tipisnya sudah tersingkap sampai di bawah payudara. Putingnya menegang kena udara AC. Aku naik ke atas kasur, lutut di antara pahanya yang terbuka. Tanganku meraba perutnya yang hangat, naik pelan sampai menggenggam payudaranya. Lembut, penuh, putingnya keras di antara jariku. Aku cubit pelan, dia mendesah langsung.

“Malam ini… jangan buru-buru,” bisiknya, suaranya sudah parau.

Aku tunduk, jilat lehernya dari tulang selangka naik ke telinga. Lidahku basah, gigiku menggigit daun telinganya. Tanganku yang lain sudah menyelip ke dalam celana dalam katunnya. Jari-jariku nemu belahan memeknya yang sudah lengket. Basah. Hangat. Aku usap pelan dari bawah ke atas, nenemukan klitorisnya yang bengkak. Dia menggeliat, pinggulnya naik sendiri mencari jariku.

“Ahh… di situ…”

Aku tarik celana dalamnya turun sampai lutut, lalu lepas sama sekali. Pahanya terbuka lebar. Di cahaya redup, memeknya kelihatan mengilap, bibirnya merah muda, cairan bening sudah netes ke sprei. Aku turun, cium paha dalamnya yang mulus, gigit pelan, lalu jilat pelan-pelan naik. Bau khasnya langsung masuk hidungku—manis, asin, bikin kepala pening. Lidahku menyentuh belahan itu, menjilat dari lubang sampai ke klitoris. Dia merintih keras, tangannya mencengkeram rambutku.

Aku hisap klitorisnya, lidahku berputar, dua jari masuk pelan ke dalam. Dinding memeknya ketat, panas, dan basah sekali. Jari-jariku melengkung, nyari titik yang bikin dia kejang. Ketemu. Dia memekik, pahanya menjepit kepalaku.

“Jangan… berhenti… please…”

Aku terus, lidah dan jari bekerja bareng. Cairannya makin banyak, bunyi kecipak basah tiap kali jariku keluar-masuk. Dia gemetar, napasnya putus-putus, lalu tubuhnya menegang. “Aku… mau… ahh—!” Dia crot di wajahku, cairan kental menyembur, pahanya bergetar hebat. Aku jilat semuanya, tidak mau ada yang terbuang.

Belum selesai dia mengatur napas, aku sudah berdiri, celanaku turun. Kontolku tegang keras, uratnya mencuat, kepala penisnya sudah basah precum. Dia melihat, matanya sayu, lalu dia bangkit dan dorong aku telentang. Mulutnya langsung turun. Lidahnya menjilat batang kontolku dari pangkal sampai ujung, lalu dia masukkan semuanya. Hangat. Basah. Tenggorokannya sempit. Dia mengulum dalam-dalam, air liurnya menetes ke bola-bolaku. Tangannya mengocok sambil mulutnya naik-turun. Aku mendesah, pinggulku bergerak sendiri.

“Cukup… aku mau masuk,” kataku serak.

Dia naik, mengangkang di atasku. Tangannya memegang kontolku, menggosokkan kepala penis itu ke belahan memeknya yang masih basah dan sensitif. Dia menggesek pelan, klitorisnya kena kepala kontolku, desahannya pecah lagi. Lalu dia turun. Pelan. Centimeter demi centimeter. Memeknya menelan kontolku, ketat, panas, licin. Sampai pangkal. Kami berdua diam sebentar, merasakan penuhnya.

Dia mulai bergerak. Naik turun, pinggulnya berputar. Payudaranya bergoyang di depan wajahku. Aku meraih, menghisap putingnya sambil tanganku mencengkeram pantatnya, membantu dia turun lebih dalam. Setiap hentakan, bunyi daging bertemu daging bercampur desahan. Sprei sudah basah. Keringat kami bercampur.

“Lebih kencang… hajar aku…”

Aku balik badannya. Dia nungging, pantatnya terangkat, memeknya terbuka di depan wajahku, masih merah dan basah, cairan menetes di paha. Aku masuk dari belakang dalam satu hentakan. Dia menjerit keenakan. Aku genjot keras, pegangan di pinggangnya, bola-bolaku menampar klitorisnya tiap kali aku dorong sampai mentok. Bunyinya plak-plak basah, ritmis, kotor. Tanganku meraih ke depan, jariku menggosok klitorisnya sambil kontolku terus menghajar lubangnya.

“Ahh—ahh—dalam… jangan keluar… isi aku…”

Dia crot lagi, memeknya menjepit kontolku berkali-kali, menyedot. Aku tidak tahan. Pinggulku menghentak terakhir, dalam sekali, lalu aku crot. Sperma panas menyembur di dalam, denyut demi denyut, mengisi dia sampai penuh. Dia merintih panjang, tubuhnya lemas, pantatnya masih terangkat menerima semuanya.

Kami ambruk ke kasur. Kontolku masih di dalam, sperma dan cairan campur mengalir keluar, basah di paha dan sprei. Hujan di luar masih deras. Dia menoleh, menciumku—asin, manis, kotor, dan hangat.

“Malam ini… belum selesai,” bisiknya, tangannya sudah meraba kontolku yang mulai tegang lagi di antara kami.

Di luar, hujan terus turun. Di dalam, kami belum mau tidur.