Lemper Ayam

Aroma ketan dan ayam bumbu kuning masih menempel di jari-jarinya ketika Raka menarik Sinta ke pangkuannya di meja dapur. Lemper yang baru saja dibungkus masih hangat, beberapa butir ketan lengket menempel di bibir bawah Sinta. Raka tidak sabar. Lidahnya menyapu sisa itu, lalu terus masuk, menciumnya dalam-dalam sampai Sinta mengerang pelan dan pinggulnya bergeser di atas paha Raka.

“Masih ada yang lengket,” bisik Raka, suaranya rendah. Tangannya mengangkat pinggiran daster Sinta, menyingkap paha mulusnya. Tidak ada celana dalam. Memeknya sudah basah, mengkilap kena cahaya lampu dapur, cairan bening menetes pelan ke paha dalam. Raka mengusap dua jari di sepanjang belahan itu, mengumpulkan lendir, lalu membawa jari itu ke mulut Sinta. “Jilat.”

Sinta menjilat, mata setengah terpejam, lidahnya memutar di sela jari Raka seperti sedang membersihkan sisa ketan. Raka mendesis. Kontolnya sudah tegang keras di dalam celana pendek, mencuat dan menekan pantat Sinta. Ia menurunkan resleting, mengeluarkan batang tebal itu. Ujungnya sudah licin precum. Sinta meraihnya tanpa disuruh, mengocok pelan, ibu jarinya mengusap lubang kencing yang berkedut.

“Mau kuisap dulu,” katanya, suaranya serak. Ia turun dari pangkuan, berlutut di lantai dapur yang dingin. Lemper yang belum sempat dimakan tergeletak di meja, daun pisangnya terbuka sebagian. Sinta tidak peduli. Mulutnya langsung melahap batang Raka, panas dan basah, lidahnya memijat urat-urat yang menonjol. Ia mengulum dalam, sampai hidungnya menyentuh rambut kemaluan Raka, tenggorokannya sesak, air liur menetes deras membasahi bola zakar. Raka menggenggam rambutnya, mendorong pinggul pelan, kontolnya keluar-masuk mulut Sinta dengan bunyi basah yang cabul.

“Fuck… mulut kamu enak banget,” erang Raka. Sinta melepaskan sebentar, tali air liur masih menghubungkan bibirnya ke kepala kontol yang merah dan berkilap. Ia meludah ke batang itu, lalu mengocok cepat sambil menjilat buah zakar, menghisap satu per satu sampai Raka mengumpat.

Raka tidak tahan. Ia menarik Sinta berdiri, membaliknya menghadap meja. Daster disingkap sampai pinggang. Pantat sintal itu dia tampar sekali, lalu dua kali, sampai memerah. Jari tengahnya menyelusup masuk memek Sinta tanpa aba-aba. Dua jari, lalu tiga, memompa kasar. Suara kecipak basah memenuhi dapur. Sinta menjerit, kedua tangannya mencengkeram tepi meja, ketan lengket ikut menempel di telapaknya.

“Masukin… please, masukin kontolnya,” mohonnya, suaranya pecah.

Raka mengeluarkan jarinya, mengganti dengan batang tebalnya. Satu hentakan dalam, sampai pangkal. Sinta terlonjak, mulut terbuka, tidak ada suara yang keluar selain desahan tertahan. Memeknya meremas ketat, dinding dalam yang panas dan licin menyedot kontol Raka seperti tidak mau lepas. Raka mulai bergerak, pelan dulu, lalu semakin cepat. Setiap hentakan membuat meja berderit, lemper di atasnya bergeser, daun pisang berkerut.

“Ketat banget memek kamu,” desis Raka di telinga Sinta, satu tangan meremas payudara dari belakang, putingnya dipilin sampai Sinta merintih. Tangan lain mengusap klitoris yang bengkak, memutar kasar seirama dengan hentakan pinggulnya. Cairan Sinta mengalir deras, membasahi paha Raka, menetes ke lantai.

Sinta mulai goyang balik, pantatnya menghantam perut Raka, mencari sudut yang lebih dalam. “Di situ… ah, di situ, jangan berhenti.” Raka menurut, sudut pinggulnya berubah, kepala kontolnya menggesek titik kenikmatan di dalam sampai Sinta gemetar hebat. Kakinya lemas. Raka menahannya, satu lengan melingkar di pinggang, terus menumbuk tanpa ampun.

Orgasme Sinta datang mendadak. Memeknya berkedut liar, menyempit dan melebar bergantian, cairan muncrat sedikit mengenai paha Raka. Ia menjerit nama Raka, tubuhnya melengkung, keringat membasahi punggung. Raka tidak berhenti. Ia terus menghentak melewati kejang itu, kontolnya semakin licin, semakin dalam.

“Aku mau crot di dalam,” bisiknya, napas panas.

“Iya… penuhin,” jawab Sinta, suaranya parau, masih bergetar.

Raka mempercepat, hentakan pendek dan brutal. Bola zakarnya menampar memek Sinta. Dalam beberapa detik ia mengerang rendah, tubuhnya menegang, dan sperma panas menyembur dalam-dalam, gelombang demi gelombang, mengisi Sinta sampai meluber keluar mengikuti setiap tarikan kontolnya. Cairan putih kental bercampur lendir Sinta menetes deras ke lantai, membentuk genangan kecil di dekat kaki meja.

Mereka diam beberapa saat, masih menyatu, napas berat. Raka mencium tengkuk Sinta, lidahnya menjilat keringat di sana. Pelan-pelan ia keluar. Sperma langsung mengalir dari memek Sinta yang masih berkedut, membasahi paha bagian dalam. Sinta menoleh, tersenyum lelah, lalu mengambil sepotong lemper yang sudah dingin dari meja. Ia menggigitnya, ketan lengket menempel di bibir, lalu menawarkan suapan ke Raka.

Raka menggigit, mencium sisa rasa ayam dan ketan yang bercampur rasa tubuh mereka sendiri. Tangannya sudah kembali mengusap memek Sinta dari belakang, mengumpulkan campuran sperma dan cairan yang masih mengalir, lalu mengoleskannya ke klitoris lagi.

“Masih lapar?” tanyanya, sudah mulai keras kembali.

Sinta tertawa pelan, membalikkan badan, dan duduk di tepi meja, kaki terbuka lebar. “Masih. Tapi yang ini dulu.” Jarinya menunjuk memeknya yang basah dan kemerahan, masih meneteskan sisa mereka.

Raka tersenyum, berlutut, dan mulai menjilat.