Lemes

Di sebuah pagi yang cerah, Lemes bersiap pergi ke masjid. Namun, begitu melangkah keluar rumah, tubuhnya mendadak lemes total. Lengannya menggantung seperti kain jemuran, dan kakinya tidak sanggup menopang. Ia duduk di tangga, pasrah.

Tetangganya, Pak RT, lewat membawa sapu. “Lemes, kok kamu seperti boneka yang kehabisan baterai?”

“Entahlah, Pak. Mungkin karena semalam begadang nonton kartun,” jawab Lemes sambil tersenyum malu.

Pak RT tertawa. “Ayo, saya bantu.” Ia mengangkat Lemes seperti karung beras yang ringan, lalu meletakkannya di gerobak dorong. Lemes merasa seperti raja yang diantar, meski gerobaknya berbunyi kresek-kresek.

Sesampai di masjid, Lemes sudah agak pulih. Ia shalat dengan khusyuk, walaupun sekali-sekali tubuhnya masih ingin rebahan. Setelah selesai, imam tersenyum. “Lemes, kamu tadi hampir jadi sajadah berjalan.”

Semua jamaah tertawa ringan. Lemes menggaruk kepala. “Besok saya tidur lebih awal, biar tidak lemes lagi.” Ia pulang dengan berjalan normal, sambil sesekali melompat kecil untuk memastikan kakinya sudah kuat. Di rumah, ibunya sudah menunggu dengan semangkuk bubur hangat. Lemes makan lahap, lalu tertidur nyenyak di sofa—kali ini dengan sengaja, dan sangat bahagia.