Kertas Foil
Pak Budi menemukan gulungan kertas foil di laci dapur dan langsung merasa seperti penemu hebat. “Ini bukan foil,” bisiknya. “Ini baju pelindung hujan versi mewah.”
Tanpa pikir panjang, ia membungkus kucingnya, Si Oyen, dari telinga sampai ekor. Oyen berjalan pelan ke ruang tamu, berkilau setiap kali lampu menyala. Dari jendela, tetangga mengira ada kentang berjalan yang kesasar.
Bu RT datang membawa sapu, siap menyelamatkan situasi. “Pak Budi, ada benda aneh di rumah Bapak!”
“Bukan benda aneh, Bu,” jawab Pak Budi bangga. “Ini Oyen edisi anti-hujan.”
Oyen menggeliat, foilnya berkerut, lalu ia berjalan ke kotak kardus favoritnya. Begitu masuk, foil itu malah berdiri seperti tenda mini. Oyen duduk di dalamnya dengan wajah tenang, seolah baru membuka kafe pribadi.
Pak Budi terdiam. Bu RT ikut terdiam. Kemudian mereka bertepuk tangan kecil.
“Namanya Kafe Kilau,” kata Pak Budi.
“Pelanggannya cuma satu,” timpal Bu RT.
Oyen mengeong sekali, seperti menyetujui. Sejak itu, setiap hujan, foil itu bukan lagi pembungkus makanan, melainkan atap kafe terkecil, paling berkilau, dan paling sopan di seluruh kompleks.