Kapan Kemarinya
Rara sudah tiga kali mengecek jam di layar ponsel. Hujan deras menggedor jendela apartemen lantai tujuh belas, dan pesan terakhir dari Dimas masih sama: *Besok pagi, sayang. Kangen.*
Ia membalas singkat, *Kapan kemarinya?* lalu melempar ponsel ke sofa. Tubuhnya panas bukan karena AC yang terlalu dingin. Sebulan. Sebulan tanpa sentuhan, tanpa napas di leher, tanpa cara Dimas menekan pinggulnya sampai ia tidak bisa berpikir. Ia hanya memakai kaus longgar Dimas dan celana dalam katun tipis. Rambut basah habis mandi masih menempel di bahu.
Bel berbunyi.
Rara kaku. Tidak ada tamu yang dijadwalkan. Ia melongok lubang intip—dan napasnya putus.
Dimas. Jas hujan basah, koper kecil di kaki, senyum yang langsung membuat perutnya mengencang.
Ia membuka pintu. Belum sempat bicara, Dimas sudah masuk, menutup pintu dengan kaki, dan menariknya. Mulut mereka bertemu keras. Hujan masih menetes dari rambut Dimas ke leher Rara. Lidahnya masuk, menuntut, dan Rara mengerang pelan ke dalam ciuman itu, jari-jarinya meremas kerah kemeja basah.
“Kamu bilang besok,” bisiknya saat Dimas melepaskan mulutnya untuk menggigit rahang.
“Aku tidak tahan.” Suaranya rendah, serak. Tangan Dimas sudah menyusup di bawah kaus, telapak kasar menyapu pinggang, naik ke payudara. Jempolnya menggesek puting yang langsung mengeras. “Satu bulan, Rara. Aku mimpiin ini tiap malam.”
Kaus ditarik lewat kepala. Udara dingin menyentuh kulit, lalu mulut Dimas yang panas. Ia menunduk, menghisap puting kanan sampai Rara mencengkeram rambutnya, punggung melengkung. Lidahnya memutar, gigi ringan menggigit, lalu pindah ke yang kiri dengan lapar yang sama. Tangan satunya sudah masuk ke celana dalam, dua jari menyusuri belahan yang sudah basah.
“Basah banget,” gumamnya di antara payudara. “Kangen, ya?”
“Kangen.” Suara Rara pecah. “Jangan main-main. Masuk.”
Dimas tertawa pendek, lalu berlutut. Celana dalam ditarik turun sampai mata kaki. Ia mengangkat satu kaki Rara ke bahunya, membuka pahanya, dan menempelkan mulut. Lidahnya rata, panjang, dari bawah sampai ke klitoris, lalu menghisap. Rara terhuyung, punggung menempel dinding lorong. Jari Dimas masuk dua sekaligus, melengkung, mencari titik yang membuat paha Rara bergetar. Ia menjilat sambil memompa jari, lidahnya tidak berhenti di puncak yang bengkak.
“Dimas—aku—”
“Keluar.” Perintah itu bergetar di kulitnya. “Aku mau ngerasain kamu kencingin lidahku dulu.”
Rara pecah. Pinggulnya menyentak, cairan hangat membasahi dagu Dimas, dan ia terus menjilat sampai getaran itu mereda, sampai Rara merintih karena terlalu sensitif. Dimas bangkit, menciumnya, membiarkan Rara merasakan rasanya sendiri di lidah. Tangan Rara sudah membuka ikat pinggang, menarik celana dan boxer turun. Penisnya keras, berat, uratnya menonjol. Ia menggenggam, mengusap dari pangkal sampai kepala yang sudah licin, ibu jarinya memutar di celah kecil di ujung.
“Sofa,” kata Dimas. “Aku mau lihat muka kamu.”
Mereka tersandung ke ruang tamu. Rara didorong telentang di sofa kulit. Dimas menyingkirkan sisa pakaian, lalu merangkak di atasnya. Ia menggesekkan kepala penisnya di belahan basah Rara, naik turun, mengoleskan cairan mereka berdua, menekan klitoris sampai Rara menggeliat dan memaki pelan.
“Masukin. Jangan digesek doang, sialan.”
Dimas tersenyum, lalu mendorong masuk dalam satu hentakan panjang. Rara membuka mulut tanpa suara. Penuh. Terlalu penuh setelah sebulan kosong. Dimas diam sebentar, dahi menempel dahi, napas mereka bercampur, membiarkan dinding Rara meremasnya.
Lalu ia bergerak.
Bukan pelan. Pinggulnya menghantam, bunyi kulit bertemu kulit bercampur deru hujan. Setiap tusukan dalam membuat payudara Rara bergoyang, membuat sofa berderit. Dimas mengait satu lutut Rara ke lengannya, membuka lebih lebar, masuk lebih dalam. Ibu jarinya menemukan klitoris lagi, menggosok cepat seirama hentakan.
“Ketat,” desisnya di telinga Rara. “Memek kamu megang aku kayak nggak mau lepas. Enak, ya? Kangen kontol aku?”
“Kangen,” Rara mengulang, suara parau. “Lebih keras. Aku mau kamu sampai dalam.”
Dimas menurut. Ia menarik keluar hampir seluruhnya, lalu menghujam lagi. Rara berteriak kecil, kuku mencakar punggungnya. Keringat mereka bercampur. Dimas menunduk, menghisap puting sambil terus bergerak, gigi dan lidah dan pinggul yang tidak memberi ampun. Rara merasakan tekanan kedua naik, lebih tajam, dari perut sampai ujung jari kaki.
“Aku mau keluar lagi,” bisiknya.
“Bareng.” Dimas mempercepat. Jempolnya menekan lebih keras. “Pegang aku. Keluar bareng aku.”
Rara mengunci kaki di pinggangnya dan melepaskan. Tubuhnya menegang, lalu bergetar hebat, dinding dalam menjepit ritmis. Dimas mengerang kasar, hentakan terakhir dalam-dalam, dan Rara merasakan semburan hangat memenuhi, denyut penisnya di dalam saat ia ikut pecah. Mereka diam seperti itu, masih menyatu, napas tersengal, hujan terus menggedor kaca.
Dimas mencium pelipisnya, masih di dalam, masih setengah keras.
“Kapan kemarinya?” ulang Rara, senyum lelah. “Sekarang. Dan jangan pulang lagi sebulan.”
Dimas tertawa, menggigit bibir bawahnya. “Aku baru mulai. Balik. Aku mau dari belakang.”
Rara menurut, lutut di sofa, dada menempel sandaran, pantat terangkat. Dimas masuk lagi dari belakang, lebih dalam dari sudut ini, satu tangan di pinggul, satu tangan meraih ke depan untuk menggosok klitoris yang masih bengkak. Hujan, sofa, dan suara tubuh mereka yang basah mengisi apartemen sampai larut.
Besok pagi bisa menunggu. Malam ini, Dimas sudah pulang.