Isap Pentil Aku Dong Yank, Ban!

Yank Ban sedang tidur di bawah pohon mangga ketika Pak RT datang sambil menyeret sepeda ontel yang kempis total.

“Isap pentil aku dong, Yank Ban!” teriaknya.

Yank melonjak. Sendok nasi gorengnya jatuh. Tiga kucing warung ikut menoleh, ekspresinya sama-sama tersinggung.

“Pak,” bisik Yank, “kalimat itu berbahaya kalau diucapkan di tempat umum.”

“Aku bicara pentil ban!” Pak RT menunjuk klep kecil di roda depan. “Anginnya habis. Lidahku masih kaku gara-gara kerupuk pagi ini.”

Yank menghela napas lega, lalu memasang pompa dengan sangat khidmat, seolah sedang menunaikan amanah negara. Cit… cit… cit. Ban mulai gembung.

Tiba-tiba kucing oranye melompat ke atas roda, mengira pentil itu mainan. Ban melenting. Kucing terbang, mendarat di ember sabun cuci. Busa meledak seperti salju dadakan. Pak RT berdiri di tengah busa, masih menggenggam pentil yang kini mengkilap.

“Lain kali saya tulis di kertas saja,” katanya.

Besoknya, di depan warung Yank terpampang papan baru: “ISI ANGIN. BUKAN ISI DRAMA. HARAP BERBICARA PELAN-PELAN.”

Dan sejak itu, seluruh kampung belajar mengucapkan “tolong pompa ban saya” dengan sangat hati-hati, supaya tidak ada lagi kucing yang ikut tersinggung.