Greges
Greges ingin sepatunya bisa pulang sendiri bila ketinggalan. Ia menempelkan lonceng mini di setiap sepatu, lalu berbisik, “Pulanglah dengan sopan, jangan nyeletuk di jalan.”
Sore itu, sepatu kanan benar-benar berjalan. Sayangnya, ia tidak pulang. Ia mampir ke warung, antre di belakang pembeli tahu, lalu duduk di bangku sambil menghadap gelas teh seolah sedang merenung. Sepatu kiri lebih pemalu. Ia hanya bergeser dua langkah, lalu pura-pura menjadi keset.
Greges mencarinya sambil membawa senter dan roti bakar. Ketika sepatu kanan ditemukan “menghirup” uap teh—karena tentu saja ia tidak bisa minum—Greges tertawa sampai tetangga keluar.
“Maaf, Pak,” katanya, “sepatu saya sedang belajar mandiri, tapi kurikulumnya ngawur.”
Tetangga itu mengangguk, lalu meminjamkan tali cadangan. Greges mengikat kedua sepatu menjadi satu, seperti dua sahabat yang dilarang berpisah. Malamnya, sepatu itu tidak kemana-mana. Mereka hanya berbunyi pelan, tok… tok…, seolah berjanji besok akan berjalan, asal Greges yang memakainya.
Greges pun tidur nyenyak. Ternyata kemandirian terbaik tetap butuh kaki yang waras—dan tali yang sedikit lebih panjang dari cita-cita.