Gapernah Bohong

Di kampung yang ramai, tinggal Pak Jujur. Ia terkenal karena gapernah bohong. Bahkan saat ditanya, “Pak, nasinya enak?” ia menjawab, “Enak, tapi garamnya sedikit kurang.”

Suatu pagi, tetangganya bertanya, “Pak Jujur, kucing saya gemuk atau kurus?”

“Gemuk,” jawab Pak Jujur. “Perutnya seperti panci yang sedang berlibur.”

Si kucing tersinggung, lalu melompat ke atap dan menolak turun. Warga berkumpul. Ada yang membawa tangga, ada yang membawa ikan, ada yang membawa nasihat.

“Turunlah, Nak,” kata Pak RT.

Kucing itu hanya menggeleng. Pak Jujur menghela napas, lalu berkata pelan, “Maaf, aku tadi kurang tepat. Kamu bukan gemuk. Kamu… berisi berkah.”

Kucing itu menoleh. Ekornya bergoyang.

“Dan kamu pandai menyimpan rahasia,” tambah Pak Jujur, “karena sampai sekarang belum ada yang tahu di mana ikan kaleng kemarin menghilang.”

Tiba-tiba kucing itu turun, duduk manis, lalu mendorong kaleng ikan dari balik pot bunga. Warga tertawa. Si kucing pura-pura tidak kenal kaleng itu.

Sejak hari itu, Pak Jujur tetap gapernah bohong. Hanya saja, ia belajar memilih kata yang benar sekaligus membuat kucing tidak naik atap. Endingnya sederhana: kampung damai, kucing kenyang, dan Pak Jujur dapat julukan baru—“Detektif Ikan yang Terlalu Jujur.”