Drama Cina

Pak RT bangun dengan rambut disisir ke belakang, padahal tinggal lima helai. Semalaman ia menonton drama Cina, lalu merasa hidupnya butuh musik sedih dan angin sepoi-sepoi.

Di warung, ia menatap Bu Warung dengan mata berkaca-kaca.

“Kau… siapa?” bisiknya.

“Yang jual nasi uduk tiap pagi, Pak,” jawab Bu Warung.

Pak RT mengangguk pelan. “Dulu kita janji di bawah pohon sakura. Eh, pohon mangga. Aku belum sanggup mengatakannya.”

“Mengatakan utang Bapak dua minggu,” potong Bu Warung.

Tiba-tiba tetangga datang membawa payung, meski matahari terik. Dalam drama, benda dramatis selalu muncul tanpa diundang. Payung itu ketuker dengan wajan. Wajan berdenting. Semua orang menoleh dalam gerakan lambat yang tidak ada yang minta.

Pak RT berlutut di depan warung.

“Aku bukan CEO! Aku cuma ketua RT! Tapi ketertiban gang ini… lebih berharga daripada istana!”

Bu Warung menepuk bahunya. “Bagus. Kalau berharga, bayar dulu. Episodenya lanjut setelah Maghrib, asal tidak lewat waktu salat.”

Pak RT berdiri, wajan masih di tangan, dan seluruh gang bertepuk tangan tanpa alasan yang jelas. Musik sedih dari HP tetangga berhenti tepat di nada paling mengharukan karena kuotanya habis. Semua orang pulang dengan puas, seolah serialnya sudah tamat dengan rating sempurna.