Cerita Konyol: Rezekinya Hilang

**Cerita Konyol: Rezekinya Hilang**

Dika akhirnya dapat rezeki beneran. Bukan dari konten gagal, bukan dari pinjol, bukan dari kambing. Dari undian warung kopi sebelah: **voucher belanja 2 juta**.

Dia langsung berteriak di gang kos.

“INI BUKTI SEMESTA LAGI SAYANG SAMA GUE!”

Vouchernya cuma bisa dipakai di satu minimarket. Dika datang jam 9 pagi, baju rapi, rambut disisir, senyum lebar. Dia ambil keranjang dan mulai belanja seperti orang yang baru lulus dari sekolah keuangan.

Rencananya:
- beras
- minyak
- telur
- sabun
- sisa uangnya buat ditabung

Tapi di lorong snack, matanya ketemu promo “Beli 2 gratis 1”. Otaknya langsung mode darurat.

“Ini kan rezeki. Kalau nggak diambil, dosa.”

Satu jam kemudian keranjangnya penuh:
- 18 bungkus keripik
- 9 botol minuman manis
- 4 kaleng sarden
- 1 boneka kecil yang katanya “buat hiasan konten”
- 0 beras
- 0 minyak
- 0 telur

Di kasir, kasirnya bilang totalnya 1.987.000.

Dika mengangguk bangga. “Pas. Semesta emang ngitungnya teliti.”

Sampai voucher-nya ditolak.

“Bang, vouchernya cuma berlaku buat produk rumah tangga. Bukan snack.”

Dika diam. Keranjangnya masih penuh. Antrian di belakangnya mulai berbisik.

Dia coba nego. “Ini kan… rumah tangga modern. Sarden buat stok darurat. Keripik buat mental.”

Kasirnya geleng. “Nggak bisa, Bang.”

Akhirnya Dika keluar dari minimarket dengan tangan kosong, muka merah, dan satu kalimat yang dia ulang-ulang di jalan:

“Rezeki gue nggak hilang. Dia cuma… pindah ke orang lain yang lebih dewasa.”

Malamnya dia makan Indomie sisa kemarin. Di atasnya dia taburin sisa keripik yang dia selundupkan di saku. Satu biji.

Dia foto, upload, caption-nya:

“Rezeki 2 juta hilang dalam 11 menit. Tapi mental? Masih promo beli 2 gratis 1.”

Komentar paling atas: “Bang, mental lu yang harus divoucher.”

Moral ceritanya simpel: kadang rezeki nggak hilang karena sial. Hilang karena kita bawa keranjang ke lorong yang salah.