Cemen
Di kantor, Cemen terkenal sebagai orang paling hati-hati sedunia. Suatu pagi, ia melihat semut di mejanya. Alih-alih menyingkirkannya, Cemen memasang helm, sarung tangan, dan masker, lalu berunding dengan semut selama sepuluh menit.
“Maaf, Pak Semut, apakah Bapak keberatan jika saya geser sedikit?” tanyanya sopan.
Semut itu hanya berjalan terus. Cemen mengangguk, “Baik, saya tunggu sampai Bapak selesai rapat.”
Rekan kerjanya tertawa. “Cemen, itu cuma semut!”
“Justru itu,” jawab Cemen. “Kalau dia marah, saya tidak siap.”
Siang harinya, lift macet. Semua orang panik, kecuali Cemen. Ia mengeluarkan botol air, biskuit, dan catatan “Rencana Darurat Versi 47”. Ia bahkan menyapa lift dengan lembut, “Tenang, Pak Lift. Kita selesaikan masalah ini dengan baik-baik.”
Tiba-tiba lift bergerak. Semua bertepuk tangan. Cemen tersenyum bangga, lalu berbisik, “Syukurlah, tadi saya sudah minta maaf ke tombolnya.”
Di luar, hujan deras. Orang-orang berlari. Cemen membuka payung mini seukuran piring, lalu berjalan pelan sambil berkata, “Hujan, saya tidak melawan. Saya hanya lewat.”
Endingnya konyol: semut, lift, dan hujan ternyata sama-sama tidak peduli. Tapi Cemen pulang dengan senyum lebar, merasa telah menyelamatkan dunia—setidaknya menurut catatannya sendiri.