Batas Kewajaran

Di Kampung Suka-Suka, Pak Joyo diangkat sebagai Penjaga Batas Kewajaran. Bekalnya hanya penggaris kayu dan buku catatan tipis.

Pagi itu, Bu Rina tertawa keras karena kucingnya memakai songkok miring. Pak Joyo mengukur lebar tawa itu dengan serius. "Ibu, tawa ini delapan sentimeter di atas batas. Turunkan menjadi senyum sopan."

Siang harinya, nasi goreng Pak Udin terlalu harum. Pak Joyo mengendus tiga kali. "Aroma berlebihan. Kurangi bawang, tambahkan udara biasa."

Sore hari, layang-layang anak-anak naik tinggi. "Itu melampaui batas kewajaran langit!" serunya. "Turunkan sampai setinggi pohon mangga!"

Layang-layang pun tersangkut. Kucing bersongkok ikut terjebak di dahan. Bu Rina menahan tawa. Pak Udin menahan bawang. Satu kampung menahan napas supaya tidak kelewatan.

Malamnya, istri Pak Joyo menyodorkan teh yang sedikit terlalu manis. "Kalau semua diukur, hidup jadi kaku," katanya.

Pak Joyo mencicipi teh itu, terdiam, lalu tertawa kecil. Penggarisnya jatuh ke kolong meja dan tidak ia ambil.

"Hari ini batas kewajaran istirahat," ucapnya. "Besok kita ukur lagi... atau tidak sama sekali."

Dari kejauhan, seluruh kampung tertawa lega—delapan sentimeter di atas batas, dan kali ini tidak ada yang menegur.