Raka & Salsa Sex Cerita: Malam yang Tak Mau Usai
Cerita: Malam yang Tak Mau Usai
Hujan deras mengguyur kota sejak sore. Di apartemen lantai dua puluh, lampu redup dan aroma kayu manis dari lilin yang baru dinyalakan memenuhi ruangan. Raka baru pulang, kemejanya masih lembap di bahu. Di sofa, Salsa sudah menunggu—gaun tipisnya menempel di kulit, rambut basah digelung sembarangan.
“Lama,” gumamnya, menarik dasi Raka sampai jarak mereka tinggal sejengkal. “Aku kangen.”
Ciuman pertama mereka lambat, hampir malas, lidah saling mencari tanpa terburu-buru. Raka menurunkan tali gaun Salsa, bibirnya menyusuri leher, bahu, lalu payudara yang sudah mengeras karena udara dingin. Ia menghisap putingnya lama, bergantian, sampai Salsa mendesah dan pinggulnya bergerak sendiri di atas sofa.
Mereka pindah ke kamar. Raka menelanjanginya sepenuhnya, lalu berlutut di tepi kasur. Lidahnya menelusuri paha dalam Salsa, naik perlahan, sampai menemukan basah yang sudah menetes. Ia menjilatnya pelan, lingkaran-lingkaran kecil di klitoris, lalu lebih dalam, jari telunjuk dan tengah masuk bersamaan, melengkung mencari titik yang membuat Salsa mencengkeram sprei.
“Jangan berhenti,” bisiknya.
Raka tidak berhenti. Ia mengulum, menghisap, menjilat sambil jarinya bergerak ritmis sampai paha Salsa gemetar dan orgasme pertama datang—panjang, bergetar, napasnya putus-putus. Tapi ia belum selesai. Ia terus, lebih lembut, membangun lagi dari sisa getaran itu sampai Salsa hampir menangis karena terlalu nikmat.
Baru kemudian Raka naik ke atasnya. Penisnya sudah keras, ujungnya basah. Ia masuk perlahan, satu inci demi satu inci, membiarkan Salsa merasakan setiap sentimeter. Mereka bergerak lambat. Sangat lambat. Raka menarik hampir keluar, lalu mendorong masuk lagi, dalam, menahan di sana, memutar pinggulnya supaya gesekan di dalam terasa penuh.
Salsa membalik posisi. Ia di atas, tangan Raka di pinggulnya. Ia naik turun dengan tempo yang ia kendalikan sendiri—kadang cepat sampai bunyi kulit bertemu kulit memenuhi kamar, kadang berhenti di dasar, menggoyangkan pinggul melingkar sampai Raka mengerang dan hampir kehilangan kendali. Ia mencondongkan badan, payudaranya bergoyang di depan wajah Raka, dan Raka menghisapnya sambil tangannya meremas pantat Salsa, membantu setiap turunannya.
Mereka berganti lagi. Raka membaliknya, mengangkat satu kakinya ke bahu, masuk dari samping. Sudut ini lebih dalam. Setiap hentakan membuat Salsa menjerit pelan. Ia meraih klitorisnya sendiri, menggosok bersamaan dengan gerakan Raka, dan orgasme kedua datang lebih keras—tubuhnya menegang, dinding vaginanya meremas penis Raka berulang-ulang.
Raka hampir ikut, tapi ia berhenti. Menarik keluar. Membalik Salsa telungkup, mengangkat pinggulnya, lalu masuk lagi dari belakang. Tangannya meraih rambut Salsa, tidak kasar, hanya cukup untuk membuatnya melengkung. Hentakannya dalam dan stabil. Ibu jarinya membasahi liang anus Salsa, menekan pelan, tidak masuk, hanya memberi sensasi tambahan yang membuat Salsa menggigit bantal.
“Aku mau lama,” bisik Raka di telinganya. “Malam ini kita tidak buru-buru.”
Dan memang tidak. Mereka berganti posisi berkali-kali—Salsa di tepi kasur, kaki di bahu Raka; mereka berhadapan sambil duduk, Salsa memeluk lehernya dan bergerak naik turun pelan seperti menari; lalu berbaring miring, Raka memeluknya dari belakang, bergerak malas sambil jarinya terus memainkan klitoris. Setiap kali salah satu hampir mencapai puncak, mereka melambat, mencium, bernapas, lalu mulai lagi.
Hujan di luar belum reda ketika akhirnya Raka tidak bisa menahan lagi. Ia mempercepat, dalam, ritmis, satu tangan di payudara Salsa, satu lagi di antara kaki. Salsa orgasme untuk ketiga kalinya, tubuhnya gemetar hebat, dan Raka menyusul—keluar di dalam, desahan tertahan di leher Salsa, pinggulnya masih bergerak kecil sampai keduanya lemas.
Mereka tidak langsung terpisah. Raka tetap di dalam, pelukan erat, keringat bercampur. Salsa menoleh, mencium sudut bibirnya.
“Masih belum cukup,” gumamnya, senyum lelah tapi nakal.
Raka tertawa pelan, sudah mulai keras lagi di dalam dirinya. “Bagus. Malam masih panjang.”
Di luar, hujan terus turun. Di dalam, mereka mulai lagi—lebih lambat, lebih dalam, seolah waktu memang tidak perlu buru-buru berakhir.