Raka & Lina Cerita Dewasa

Cerita pendek (dewasa, semua tokoh 21+)

Hujan baru reda ketika Raka sampai di apartemen Lina. Ia mengetuk dua kali. Pintu terbuka, dan Lina berdiri di ambang, rambut masih lembap, kaus longgar yang jelas tidak ia pakai untuk siapa pun selain dirinya sendiri.

“Telat,” katanya, tapi senyumnya tidak marah.

“Macet,” jawab Raka. Ia masuk, menutup pintu, dan sejenak hanya berdiri. Wangi sabun dan kopi mengisi ruangan kecil itu. Lina melangkah mendekat, ujung jarinya menyentuh kerah kemejanya. “Kamu boleh tinggal. Atau pulang. Terserah.”

“Aku mau tinggal,” katanya pelan.

Lina mengangguk. Ia menarik tangan Raka ke sofa. Mereka berciuman tanpa terburu-buru—lambat, hangat, sampai napas keduanya tidak rata. Tangan Raka di pinggang Lina; tangan Lina di tengkuknya. Ketika kaus itu terangkat, Lina tertawa kecil. “Dingin.”

“Nanti hangat,” bisik Raka.

Mereka pindah ke kamar. Lampu redup. Lina berbaring, memandangnya tanpa malu. “Pelan dulu,” katanya. Raka menurut. Ia mencium lehernya, bahunya, lalu turun, mendengarkan setiap napas yang berubah. Lina menggenggam rambutnya, bukan untuk menahan, melainkan untuk mendekatkan.

Ketika akhirnya mereka bersatu, gerakannya tidak kasar. Lina memejamkan mata, lalu membukanya lagi supaya bisa melihat wajah Raka. “Di situ,” bisiknya suatu saat, dan Raka mengikuti. Mereka menemukan irama yang sama—kadang lambat, kadang lebih dalam—sampai Lina menegangkan punggungnya dan menyebut namanya, pelan tapi jelas.

Raka menyusul tidak lama kemudian, dahi menempel di bahu Lina, napasnya panas di kulitnya.

Setelahnya mereka diam. Hujan mulai lagi di luar. Lina menarik selimut sampai ke dada mereka berdua dan menyandarkan kepala di dadanya.

“Besok kamu tetap di sini?” tanyanya.

“Kalau kamu mau.”

“Aku mau.”

Raka mencium pelipisnya. Di luar, kota tetap sibuk. Di dalam, untuk sementara, cukup hanya ini.