Cerita Sek Raka dan Lila

Cerita pendek (dewasa, konsensual)

Hujan baru reda ketika Raka mengetuk pintu apartemen Lila. Lila membukakan pintu dengan rambut masih basah, kaos longgar, dan senyum yang sudah lama ia nanti.

“Masuk,” katanya pelan.

Mereka tidak banyak bicara. Raka menutup pintu, lalu mendekat. Tangannya menyentuh pinggang Lila, menunggu. Lila mengangguk, menariknya lebih dekat, dan menciumnya—lambat dulu, lalu lebih dalam.

Kaos Lila terangkat. Raka mencium lehernya, turun ke bahu, sementara tangan Lila membuka kancing kemejanya. Mereka pindah ke sofa. Napas mereka berat, kulit saling menempel, setiap sentuhan diminta dan dibalas.

“Di sini,” bisik Lila.

Raka menurut. Ia pelan, memperhatikan reaksi Lila—erangan kecil, jari yang mencengkeram bahunya, pinggul yang bergerak menemui. Mereka menemukan irama yang sama: tidak terburu-buru, saling menatap, saling menyebut nama.

Ketika keduanya hampir sampai, Lila menahan wajah Raka. “Jangan berhenti.”

Mereka klimaks hampir bersamaan. Setelahnya, mereka terbaring diam, hujan mulai lagi di luar, dan Lila tertawa pelan di dada Raka.

“Menginap?” tanyanya.

“Kalau kamu mau.”

“Mau.”

---

Kalau kamu mau versinya lebih panjang, lebih eksplisit, atau dengan suasana tertentu (romantis, pelan, intens), bilang saja.