Cerita Sek Dipantai Raka 💗 Dinda
Malam itu pantai sepi. Ombak kecil menabrak pasir, angin asin menusuk kulit. Raka, 32 tahun, dan Dinda, 29 tahun, sudah berbaring di atas handuk sejak matahari tenggelam. Tidak ada orang lain. Hanya mereka, laut, dan desir daun kelapa.
Dinda berbalik, bibirnya menempel di leher Raka. Lidahnya basah, panas, menjilat sampai ke telinga.
“Gue pengen kontol lo di dalam memek gue. Sekarang,” bisiknya, napasnya sudah berat.
Raka tidak banyak bicara. Tangannya langsung menyelip ke dalam bikini Dinda, jari telunjuk dan tengahnya masuk ke memek yang sudah basah kuyup. Cairan lengket menempel di jarinya. Ia keluarkan, lalu jilat sendiri, mata tidak lepas dari wajah Dinda.
“Memek lo udah becek banget. Bau amisnya sampe ke hidung gue.”
Dinda duduk, membuka tali bikini atas. Teteknya montok, puting cokelat sudah keras. Ia tarik celana renang Raka ke bawah. Kontol Raka tegak, uratnya jelas, kepala kemerahan sudah mengkilap karena precum.
Dinda menunduk tanpa aba-aba. Mulutnya langsung menelan batang itu sampai ke pangkal. Tenggorokannya sesak, air liur menetes ke bola Raka. Ia hisap keras, lidah berputar di kepala kontol, lalu keluar masuk dengan ritme cepat. Suara basah “gluk… gluk…” terdengar jelas di antara deburan ombak.
Raka menggenggam rambut Dinda, mendorong pinggulnya. “Hisap lebih dalam. Biar peju gue langsung ke kerongkongan lo.”
Dinda menurut. Ia telan sampai hidungnya menempel di perut Raka, lalu keluarkan sambil batuk kecil, benang liur menggantung dari bibir ke kepala kontol.
“Sekarang gue yang mau dimakan,” katanya, suara serak.
Ia berbaring, kaki dibuka lebar. Raka merunduk, lidahnya langsung menyapu belahan memek Dinda dari bawah ke atas. Ia hisap klitorisnya, gigit pelan, lalu masukkan lidah dalam-dalam. Dinda merintih, pinggulnya naik turun, menekan wajah Raka ke memeknya.
“Jilat terus… jangan berhenti… gue mau muncrat di muka lo.”
Raka menambahkan dua jari, menggaruk dinding dalam memek Dinda sambil terus menghisap klitoris. Tubuh Dinda menegang. Cairan bening menyembur, membasahi dagu dan dada Raka. Ia tidak berhenti. Ia terus menjilat sampai Dinda gemetar dan mendorong kepalanya.
“Masukin. Sekarang. Gue mau kontol lo ngewe memek gue sampe longgar.”
Raka membalikkan Dinda tengkurap, pantat diangkat. Ia ludahi memeknya sekali lagi, lalu tusuk kontolnya dalam satu hentakan. Dinda menjerit, kuku mencengkeram pasir.
“Anjing… dalam banget…”
Raka mulai menghentak. Setiap tusukan membuat pantat Dinda bergetar, suara kulit bertemu kulit bercampur dengan desahan dan ombak. Ia tarik rambut Dinda, paksa punggungnya melengkung, lalu percepat tempo. Kontolnya keluar hampir sampai kepala, lalu ditusukkan lagi sampai bola menampar klitoris.
“Memek lo ngejepit kontol gue. Ketat banget, Dinda. Gue mau pejuin lo di dalam.”
“Pejuin. Isi memek gue. Gue mau ngerasain peju lo netes keluar nanti.”
Raka semakin kasar. Satu tangan meremas tetek Dinda dari belakang, puting dijepit di antara jari. Hentakan terakhirnya dalam dan lambat, lalu ia keluarkan semuanya. Cairan kental putih menyembur ke dalam memek Dinda, sebagian langsung meluber keluar, menetes ke paha dan pasir.
Ia belum selesai. Ia cabut kontolnya, balikkan Dinda, lalu masukkan lagi sambil menatap matanya. Sisa peju membuat gerakan licin. Ia terus ngentot pelan sampai kontolnya melemas di dalam, lalu mencabutnya. Peju mengalir keluar dari memek Dinda yang masih berkedut, bercampur cairan mereka sendiri.
Mereka berbaring diam beberapa saat, napas tersengal, tubuh lengket oleh keringat, pasir, dan cairan. Angin malam mendinginkan kulit yang masih panas.
Dinda tertawa pelan, jari menyentuh memeknya yang masih basah. “Besok kita balik ke sini lagi. Gue belum puas.”
Raka mencium keningnya. “Siap. Bawa handuk lebih banyak.”