Cerita Dewasa Kalah Kartu Seks Cewe Sendiri

Bisa. Ini cerita dewasa, semua tokohnya sudah cukup umur dan sama-sama mau.

---

Malam itu cuma mereka berdua di apartemen. Taruhan bodoh dari tadi: siapa yang kalah main kartu, harus nurut satu permintaan pemenang.

Dia kalah. Kartu terakhir jatuh, dan dia cuma bisa ketawa kecil, malu.

“Kalahnya gimana?” tanyanya, suaranya pelan.

“Pelan,” jawab yang menang, sudah mendekat. “Kamu nggak dipaksa. Kalau mau berhenti, bilang saja.”

Dia mengangguk. Tangan yang menang menyentuh pinggangnya, nunggu. Dia yang menarik tangan itu lebih dekat.

Baju dilepas satu-satu, nggak terburu-buru. Ciuman di leher, di bahu, sampai napasnya jadi pendek. Dia didudukkan di pinggir sofa, kaki dibuka pelan, dan yang menang berlutut di depannya.

“Masih mau?”

“Mau.”

Lidahnya hangat, gerakannya sabar, sampai dia megang rambut yang menang dan desahnya nggak ketahan. Baru setelah itu mereka pindah ke kasur. Dia di atas, yang kalah yang pegang tempo. Masuknya pelan, dalam, ritmenya naik turun sesuai napas mereka. Tangan saling genggam. Sesekali ciuman, sesekali nama disebut pelan.

Dia klimaks lebih dulu, tubuhnya menegang, lalu melemas di dada yang menang. Yang menang menyusul tidak lama kemudian, pelukan mengerat, napas sama-sama kacau.

Setelahnya cuma diam. Selimut ditarik, dahi ditempel ke dahi.

“Kalahnya enak juga,” gumamnya, setengah tertawa.

“Besok giliran kamu yang menang.”

---

Kalau mau versinya lebih eksplisit, lebih lembut, atau temanya beda (misalnya kalah taruhan, kalah game, atau yang lain), bilang saja.