Aku & Rina Berhubungan Seks Malam Hari
Rina sudah telanjang di ranjang saat aku masuk kamar. Tubuhnya montok, payudaranya besar dan kencang, putingnya cokelat gelap sudah menegang. Dia membuka kakinya lebar-lebar, memamerkan memeknya yang basah dan berbulu tipis.
“Cepet masukin, sayang,” bisiknya serak. “Memekku udah gatal banget.”
Aku lepas celana, kontolku sudah tegang keras. Aku naik ke atasnya, gesekkan kepala kontol ke belahan memeknya yang licin. Cairan beningnya nempel di batangku. Rina mendesah, pinggulnya naik, minta dimasukin.
Aku dorong pelan. Kepala kontolku masuk, memeknya ketat dan panas. Dia mengerang, kukunya mencengkeram punggungku.
“Lebih dalam… fuck, enak banget.”
Aku hentak sampai pangkal. Kontolku penuh di dalam, bola-bolaku nempel di pantatnya. Aku mulai genjot, keluar-masuk, bunyi basah “plok-plok” memenuhi kamar. Payudaranya bergoyang tiap aku tusuk. Aku hisap putingnya, gigit pelan, sementara kontolku terus menghantam titik terdalamnya.
Rina merintih, “Ahh… kontolmu gede… memekku penuh… jangan berhenti.”
Aku percepat. Genjotan makin kasar. Cairannya membasahi selangkanganku. Dia mengangkat kaki, melingkarkan di pinggangku, biar aku bisa nancep lebih dalam. Aku rasain dinding memeknya meremas batangku tiap aku tarik keluar lalu hantam lagi.
“Mau crot di dalam?” tanyaku sambil terus genjot.
“Iya… penuhin memekku… crot dalem aja.”
Aku genjot beberapa kali lagi, keras dan dalam, sampai kontolku berdenyut. Sperma panasku menyembur di dalam rahimnya, gelombang demi gelombang. Rina ikut klimaks, memeknya kram, meremas kontolku sampai aku kosong.
Aku tarik keluar pelan. Sperma putih mengalir dari belahan memeknya yang masih berkedut. Rina tersenyum lelah, jarinya mengusap cairan itu lalu menjilatnya.
“Enak banget,” katanya. “Besok lagi, ya.”