**Rusuh: Ketika Amarah Mengalahkan Akal Sehat**
Di Indonesia, kata “rusuh” punya tempat yang sangat spesial di hati masyarakat. Begitu mendengar kata itu, orang langsung teringat asap hitam, suara sirine, toko-toko yang dibakar, dan ibu-ibu yang menangis di pinggir jalan. Tapi apa sebenarnya rusuh itu? Dan mengapa kita, sebagai bangsa, seolah-olah selalu berjarak satu kesalahan kecil dari kekacauan?
Mari kita bicara secara jujur dan terbuka.
### Apa Itu Rusuh Sebenarnya?
Rusuh bukan sekadar demonstrasi yang “agak ribut”. Rusuh adalah ketika emosi massa sudah tidak lagi terkendali. Batas antara menyampaikan aspirasi dengan melakukan penghancuran hilang dalam hitungan menit.
Ciri khas rusuh biasanya meliputi:
- Kekerasan fisik terhadap orang dan barang
- Pembakaran fasilitas umum atau swasta
- Penjarahan
- Konflik antar kelompok (etnis, agama, atau antar pendukung)
- Hilangnya kendali aparat keamanan
Rusuh adalah titik di mana protes berubah menjadi amuk massa.
### Mengapa Rusuh Sering Terjadi di Indonesia?
Ada beberapa akar masalah yang terus berulang:
**1. Ketidakadilan yang Terakumulasi**
Ketika sekelompok orang merasa haknya terus diabaikan bertahun-tahun, amarah itu tidak hilang. Ia menumpuk seperti gas di dalam ruangan tertutup. Tinggal butuh percikan kecil untuk meledak.
**2. Provokator Profesional**
Di hampir setiap kerusuhan besar di Indonesia, selalu ada “orang-orang tertentu” yang datang dengan motor dan membagikan batu, molotov, atau bahkan uang. Mereka bukan bagian dari demonstran asli. Tujuan mereka jelas: mengubah aksi damai menjadi berita utama yang mengerikan.
**3. Media Sosial yang Membakar Emosi**
Sebelum demonstrasi turun ke jalan, narasi sudah dipanaskan di grup-grup WhatsApp dan Twitter/X. Hoaks, video editan, dan kalimat-kalimat provokatif menyebar lebih cepat daripada api.
**4. Trauma Sejarah yang Belum Selesai**
Kerusuhan Mei 1998, kerusuhan Sampit, kerusuhan Ambon, kerusuhan Poso, kerusuhan Papua — semua ini meninggalkan luka kolektif yang belum benar-benar disembuhkan.
### Dampak Rusuh yang Jarang Dibahas
Kebanyakan orang hanya melihat kerusakan fisik. Padahal dampak terbesar rusuh justru tidak terlihat:
- **Trauma anak-anak** yang melihat orang dibakar atau toko orang tuanya dijarah
- **Hilangnya kepercayaan antar etnis** yang butuh puluhan tahun untuk dibangun kembali
- **Investor kabur**, ribuan orang kehilangan pekerjaan
- **Stigma** yang melekat pada suatu daerah atau kelompok etnis bertahun-tahun kemudian
Saya pernah bertemu dengan seorang ibu di Glodok yang sampai sekarang (2025) masih trauma setiap mendengar suara petasan. Baginya, petasan = kerusuhan Mei 1998.
### Belajar dari Sejarah
Kerusuhan Mei 1998 adalah pelajaran paling mahal dalam sejarah Indonesia modern. Dalam beberapa hari, Jakarta seperti kembali ke masa perang. Ratusan orang meninggal, ribuan perempuan menjadi korban kekerasan seksual, dan ekonomi jatuh terpuruk.
Tapi ada juga pelajaran positif:
- Kerusuhan Ambon dan Poso akhirnya bisa dihentikan melalui pendekatan rekonsiliasi berbasis agama dan adat
- Gerakan “Masyarakat Madani” di beberapa daerah berhasil mencegah kerusuhan dengan membangun dialog antar tokoh agama dan pemuda sejak dini
### Bagaimana Mencegah Rusuh?
Pencegahan rusuh bukan hanya tugas pemerintah dan polisi. Ini tugas kita semua.
**Yang harus dilakukan pemerintah dan aparat:**
- Menghargai demonstrasi damai (jangan langsung dianggap musuh)
- Menindak tegas provokator, bukan demonstran
- Transparan dalam setiap kasus yang berpotensi memicu konflik
**Yang harus dilakukan masyarakat:**
- Berhenti menyebarkan konten yang memprovokasi meski “hanya” di grup keluarga
- Belajar mengelola emosi saat melihat ketidakadilan
- Membangun hubungan antar tetangga yang berbeda suku dan agama *sebelum* ada masalah
**Yang harus dilakukan media:**
- Tidak mengejar rating dengan menampilkan gambar-gambar sensasional
- Memberitakan fakta, bukan narasi yang memihak
### Penutup: Kita Punya Pilihan
Setiap kali ada isu yang memanaskan suhu politik atau sosial, kita selalu dihadapkan pada dua pilihan:
1. Menjadi bagian dari api, atau
2. Menjadi bagian dari air
Rusuh itu mudah dinyalakan, tapi sangat sulit dipadamkan. Sementara perdamaian itu sulit dibangun, tapi jauh lebih mudah untuk dipertahankan.
Kita tidak perlu menjadi pahlawan. Cukup menjadi orang yang, ketika semua orang mulai melempar batu, memilih untuk tidak ikut melempar. Cukup menjadi orang yang berani berkata, “Ini sudah keterlaluan.”
Karena pada akhirnya, rusuh tidak pernah melahirkan keadilan yang hakiki. Ia hanya melahirkan korban, dendam, dan siklus kekerasan baru.
Mari kita jadi generasi yang cukup dewasa untuk marah, tapi cukup bijak untuk tidak merusuh.
---
**Bagaimana menurut Anda?**
Pernahkah Anda berada di tengah situasi yang hampir menjadi rusuh? Atau punya pengalaman bagaimana konflik berhasil dicegah di lingkungan Anda?
Silakan tulis di kolom komentar. Mari kita berdiskusi dengan kepala dingin.
*Salam dari seorang yang percaya bahwa Indonesia bisa lebih baik tanpa harus rusuh.*